1/9/15

Beragama Tanpa Menyakiti Oleh Salman Alfaridi

BERAGAMA TANPA MENYAKITI

Sebuah catatan yang perlu disebarluaskan. Islam.. Rahmatanlilalamin- yang punya blog @bellacitra

“Orang yang penyayang,akan disayang oleh Ar-Rahman. Sayangilah mereka yang ada di bumi, niscaya kalian akan mendapatkan kasih sayang dari (Tuhan) yang ada di langit…” ~ Hadits Nabi Saw. Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Amr.

Tahun 2014 barangkali menjadi kulminasi sebuah album potret indakan kekerasan yang, seolah virus, secara cepat menular dan berjangkit di mana-mana. Ketegangan nyaris tiada akhir antara Israel-Palestina, berkolaborasi dengan banyak tindak kekerasan di berbagai tempat; peperangan atas nama agama di Sudan, bangkitnya gerakan alshabaab di Somalia, pengusiran muslim Rohingya oleh sekumpulan pendeta Buddha di Myanmar, hingga aksi balas dendam pejuang Taliban terhadap  militer Pakistan yang menewaskan ratusan murid sekolah baru-baru ini. Seakan belum cukup, manifestasi kekerasan itu kini muncul dalam bentuk proklamasi Negara Islam seperti yang dipropagandakan ISIS (Islamic State in Iraq and Syiria) yang mengumumkan kedaulatan mereka di atas dua negara yang kini hancur lebur dilanda perang saudara, Irak dan Syiria, dan menyebar teror bagi siapa saja yang tidak sepakat dengan ideologi mereka.

Sementara itu, di dalam negeri, ekses semua potret kekerasan di luar Indonesia, memicu timbulnya kekerasan internal dalam tubuh umat Islam. Konflik Syria seakan menjadi legitimasi sebagian umat Islam terhadap kelompok muslim minoritas seperti Syiah (setelah sebelumnya ahmadiyah), bagai menyiram bensin ke dalam bara yang selama ini tidak pernah padam. Api kebencian menyala di mana-mana. Dalam logika kekerasan seperti ini, jalan keselamatan hanya tersedia jika pihak musuh bersedia tunduk kepada kuasa mayoritas. Anehnya, keganjilan logika ini seakan tidak disadari menemukan cara pandang yang sama dalam ideologi ISIS, yang, di luar konflik internal umat Islam, secara bersemangat ditolak dan dihujat bahkan menyatakan dengan tegas bahwa ISIS bukanlah bagian dari Islam. Sebuah paradoks yang menarik!

Akar Kekerasan
Dari mana muara kekerasan ini berasal? Agama adalah yang paling mudah dikambinghitamkan. Melalui banyak analisis dan pendekatan, terutama orientalis yang diwakili oleh Barat, termasuk di dalamnya semua manifestasi lapisan sosial antiislam, akan menuduh Islam sebagai biang kerok terorisme internasional. Bahwa akar fundamentalisme islam yang paling niscaya dapat dilihat secara mata telanjang pada ajaran-ajarannya yang penuh kebencian:membenci Yahudi dan Nasrani dan memuat anjuran memerangi atau membunuh orang kafir. Celakanya, justru ini pula yang dipraktikkan oleh pelaku teror yang mengatasnamakan islam, yang kemudian dianggap mewakili gambaran Islam dan Muslim secara umum. Karena alasan ini, hampir dapat dipastikan semua doktrin kasih sayang dan Islam sebagaiagama kasih dan damai seperti yang dicontohkan oleh Muhammad Saw., luntur oleh nalar kebencian.

Akan tetapi, yang tidak diakui Barat adalah juga kontribusi besar dunia Barat dalam menyemai kebencian yang sama melalui proyek besar eksperimen mereka untuk mengenalkan “orang-orang barbar” ke dalam peradaban barat dengan cara kolonialisasi wilayah-wilayah yang kaya sumber daya (ingat misalnya bagaimana Ratu Beatrix dari belanda secara konsisten menolak negerinya pernah menjajah indonesia, kecuali aksi parsial para saudagar pencari untung belaka yang tergabung dalam VOC). Peradaban, yang terbungkus rapi di dalamnya misi penguasaan kekayaan ini, sedikit banyaknya telah menimbulkan luka di mana-mana: di anak benua india, TimurTengah, Asia Tenggara, dan Afrika. Kita tidak boleh lupa, bahwa semua Negara yang merdeka dari penjajahan mungkin baru menikmati udara bebas dalam waktu cukup singkat sekitar 50-an tahun. Dan selagi Negara-negara ini bangkit dari keterpurukan dan berkembang, secara elegan dunia Barat menebar konsep yang sangat humanis, yaitu hak asasi manusia, dengan mencoba melupakan apa yang telah dilakukan selama ratusan tahun di tempat-tempat yang dulu mereka jajah secara tidak manusiawi. 

Menimpakan semua kesalahan pada agama per se sungguh tidak adil. Islam seperti agama lainnya memiliki potensi yang sama untuk menjadi agama yang damai atau agama kekerasan. Teks-teks bermuatan kekerasan tidak saja terdapat dalam Alquran, pesan yang sama muncul pula dalam tradisi Kristen dan Yahudi seperti kisah pemancungan orang-orangyahudi dalam kisah Musa (moses) selepas eksodus dari Mesir yang juga didapati dalam perjanjian lama sebagai akibat hasutan Samiri (seorang Samaritan) yang membelokkan keyakinan bani israil untuk menyembah sapi berhala. Teks inipun, kalau dipahami dengan benar, adalah catatan sejarah yang ditransmisikan dari generasi ke generasi. Bukanlah sebuah afirmasi atas konsep umum yang mewakili keseluruhan ajaran. Selain itu, dalam kekerasan, agama bukan satu-satunya motif. Situasi geopolitik, tekanan ekonomi dan ketidakstabilan politik ikut berkelindan menyirami benih-benih kebencian yang akhirnya berujung pada kekerasan. 

Filsafat Perennial
Inisiasi yang dirancang oleh banyak sarjana muslim untuk mencari titik temu dalam agama telah banyak dirintis dan bahkan menghasilkan karya ilmiah yang sangat bermanfaat untuk memahami sudut pandang agama-agama.Dalam kajian filsafat Perennial seperti disampaikan Seyyed Hossein Nasr, salah seorang ilmuwan muslim yang otoritatif dalam studi islam, misalnya, menjelaskan aspek universalisme agama di mana kebenaran setiap agama bertemu, lebih tepatnya pada wilayah metafisik, atau esoterik. Aspek esoterik atau dimensi batin agama-agama ini adalah pusat atau ruh yang menjadi denyut nadi agama seperti halnya tradisi asketik dalam Kristen, atau tasawwuf dalam Islam. Akan tetapi, untuk mencapai pemahaman batin ini kita tidak bisa melewatkan pinggirannya lalu melompat ke pusat. Sebab, pemahaman akan dimensi batin ini mensyaratkan siapa pun pelakunya untuk mencapai pinggirannya dahulu berupa ritual atau syariat yang merupakan dimensi luar (eksoterik) agama. Bentuknya bisa berbeda, tetapi intinya sama, mencapai kebenaran yang absolut. 

Dalam praktiknya, siapa pun pengikut agamanya, seseorang haruslah bersungguh-sungguh dalam jalan agamanya masing-masing agar dapat mencapai kebenaran yang absolut. Sebab, hasrat mencari kebenaran yang absolut ini sesungguhnya dikarenakan manusia, di dalam dirinya, sudah mengandung/membawa kebenaran, yang disebut sebagai intelek atau mata hati. Intelek seperti yang dijelaskan Fritschof Schuon adalah fitur manusia yang tertinggal ketika diusir pergi dari surga. Adam memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dari dalam, sementara manusia lainnya (fallen man) hanya bisa mengetahuinya dari luar, itu pun hanya menangkap bayang-bayangnya saja. Karena itu hanya melalui aktivasi intelek, manusia bisa mencapai kebenaran sejati (yang di antaranya dicapai dengan disiplin), selain itu mungkin sekali hanya berputar-putar dalam lingkaran ritual agama yang tidak memiliki dampak batin berupa kesalehan, kemurah-hatian dan kelemah lembutan. 

Inilah sejatinya esensi yang hilang sebagai buah pengaruh pengetahuan modern yang mengambil jalan memisahkan diri dari kaitan tubuh dan pikiran (dan akhirnya ruh) yang membentuk dunia modern yang sekuler. Dalam manifestasi agama, dualisme ini tampak pada praktik agama yang terbelah:relijius tapi korup, beragama tapi menyakiti. 

Selamat tahun baru 2015. 

catatan: tulisan pernah dimuat di Bernas dengan tambah kurang seperlunya
Twitter @salmanfaridi

12/7/14

A Love Letter for Superb Mom

Akan terjadi kamu mengejar hal yang tak pasti. Dikelabui ilusi.

Tapi kamu harus segera sadar. Hingga hujan datang. Kabut turun. Lalu mematahkan di penghujung sana. Ada puncak yang harus kita tuju. Dan lalui untuk menuruninya bersama-sama kembali. Sudah takdirnya. Mau dikata apa. Jangan takut ada Allah dan doa mamah.

Thank you mom. No matter how childish we are. No matter how heart-ache of your child did to you. You always forgive and still do the best thing and pray for us. You are superb mom in the world. Thank you for every spirit, for every pray and everything for us. Thank you and I love you so much mom. I love you....

<3

With love,
Bella

12/1/14

Ibu yang Cerdas

Repost April-May 2014

Hari ini saya sengaja mampir ke website yang sudah lama tak saya kunjungi padahal beliau menulis setiap hari. Pasti udah bisa nebak ya. Kek Jamil Azzaini. Dalam tulisan beliau yang memuat judul four ways dan family value membuat saya tergagap-gagap.

Saya perempuan dan tentunya sudah menjadi takdir saya menjadi seorang ibu. Berbicara mengenai ibu yang terkait keluarga. Sebagian perempuan sudah lupa, mungkin terlalu memandang bahwa mahligai pernikahan adalah segala hal bahagia yang berhubungan dengan dongeng. Bermimpi mempunyai anak kecil yang mengasikan dan lain-lain. Ia lupa dan lalai kepada kepahitan, melihat data statistik bahwa perceraian di Indonesia meningkat tajam. Lupa bahwa kesiapan mental dan tanggung jawab yang dipikulnya sebagai seorang istri dan ibu bukan lagi dongeng tapi realitas. Bahkan disney sang pencetak dongeng perempuan seantero dunia pun perlahan mulai sudah sadar dongengnya dirubah tak lagi seperti cinderella.


It's a fairytale, ur daughter should be well educated too :) source: tumblr.com

Balik lagi... mengupas dari sisi Kek Jamil, bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Saya melihat Ibu saya: ibu rumah tangga tapi berharap saya ke depan tetap bekerja. Alasan ibu menyuruh saya tetap bekerja karena ibu bilang kita tidak tahu masa depan seperti apa sewaktu-waktu. Jangan berharap terus terhadap laki-laki. Beliau juga sadar bahwa pekerjaan saya sekarang tidak akan bisa menjadi modal saya menopang beban sebagai ibu. Karena bertabrakan fitrahnya. Beliau berharap saya melanjutkan kuliah. Kelak menjadi dosen, guru atau PNS saja. Saya hanya bisa mengangguk perlahan.

Menjadi wanita yang bekerja dan punya tendensius tinggi dalam hal karier adalah hal lumrah di zaman sekarang. Nilai-nilai feminimisme mengakar tinggi baik suburban maupun ranah ibukota. Menurut saya, sejak pemberlakuan revolusi industri, wanita mengharapkan kesetaraan dan keadilan. Zaman sekarang apalagi semakin menjadi, yang saya lihat di kereta bahkan disinisi oleh penumpang laki-laki. Kami kesal mungkin. Hidup di era sekarang tak bisa lagi mengandalkan hanya laki-laki yang mencari nafkah. Perempuan yang seharusnya di rumah turut andil juga. Begitulah realitas yang berbicara.

Sejarah mengungkapkan era emansipasi wanita Indonesia oleh Ibu Kartini. Tapi, apakah tujuan mulia Ibu Kartini tersebut untuk mencetak kesetaraan gender dan karier cemerlang? Tentu bukan. Sayangnya ke-Kartinian bangsa ini sudah terganti dengan tiga syarat majalah Cosmopolitan: Fear, Fearless, Female. Saya tak menyangkal. Begitupun wanita di luar sana. Pak Jamil sekali lagi mengingatkan empat poin: Surga, neraka, miskin, kaya. Tentu yang kita mau adalah Kaya lantas masuk surga. Bukankah begitu? Lalu kembali ke titik awal. Sebagian perempuan dengan ke-Kartinian zaman millenial yang telah berubah. Menginginkan karier cemerlang dan rumah tangga bahagia. Tidak, bukan tidak mungkin hal tersebut bisa dilakukan. Tapi hanya kemungkinan kecil. Fitrah menjadi perempuan adalah menjadi seorang ibu.

source: tumblr.com
Bicara mengenai realita. Saya menghadapi realita itu sendiri. Contohnya, saya pengajar privat waktu itu. Ibunya seorang PNS juga di Jakarta. Pulang pukul 8 malam sampai di Depok. Meskipun begitu anak beliau susah sekali diatur. Seperti kehilangan sosok Ibu... dan ayahnya juga penting (tapi kita masalah ini perlu tepis karena point utama terletak bukan pada pembahasan ini)

Saya sadar betul. Apapun yang saya pilih nanti akan sarat dengan resiko. Seperti opportunity cost dalam akuntansi. Saya takut di suatu masa akan tumbuh kelas menengah yang lebih besar dan membayar orang tua profesional untuk anak-anaknya kelak. Saya takut sekali itu terjadi. Akan ada disfungsi orangtua yang asal lempar pada orangtua profesional tersebut. Indonesia belum sampai taap seperti itu. Masih mengandalkan sang nany atau asisten rumah tangga saja.

Bagaimana dengan gelar saya. Kuliah saya akankan menjadi percuma. Suara sumbang perempuan yang menyayangkan gelarnya tersebut tentu banyak bermunculan. Meskipun begitu nama gelar dibelakang saya sangat penting. Ibu yang cerdas bukankah melahirkan anak-anak yang cerdas pula? Tiga family value lah yang diungkapkan oleh Pak Jamil: ACI: Agama, Costumer, dan Integritas.

Menurut saya tak selamanya menjadi ibu adalah pembantu. Kemarin saat sekamar dengan oknum K, saya terkesima dengan jawaban diplomatis suaminya. Bahwa yang mengerjakan urusan rumah biarlah dia saja. Kalau untuk mencari pembantu tentu mudah. Tak sama perkaranya untuk mencari istri sebagai pendampingnya. Jika ada seorang perempuan yang masih memandang rendah bahwa menjadi ibu adalah pembantu rasanya yang harus disalahkan adalah budaya kita juga. Kebanyakan perempuan disamakan posisinya. Mungkin itulah yang membuat kebanyakan perempuan berpikir dua kali menjadi seorang ibu secara penuh waktu di rumah. Membaca blog dari Mariana, ia juga menjelaskan bagaimana suaminya yang "orang luar" alias bule terbiasa melakukan segalanya sendiri. Laki-laki disana dianggap mampu melakukannya sendiri. Sayangnya nilai ketimuran yang diadaptasi di Indonesia khususnya. Membuat banyak laki-laki manja (bukan termasuk suami oknum K atas dasar pengecualian).

Selain itu, saya juga teramat kagum dengan budaya Jepang yang menyebut wanita Kyoiku Mama (Ibu Pendidik), kebudayaan Jepang sangat menganggap bahwa Ibu pendidik lebih keren, lebih dinilai sebagai 'penguasa rumah'. Karier menjadi hilang sama sekali setelah menikah dan melahirkan anak pertama. Wanita Jepang lebih bangga dengan gelar sebagai Kyoiku Mama. Meski bergelar S1/S2. Bukankah mempunyai Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan berakhlak mulia pula. Yang patut dicontoh adalah Ibu saya sendiri. Ibu rela meninggalkan kariernya sebagai seorang pengajar setelah melahirkan saya anak pertama. Meski kelam dilanda krisis moneter. Setidaknya masa kecil saya bahagia. Saya tidak kehilangan sosok ibu. Saya merasa lengkap. Ibu ada saat mengambil rapot atau ada saat mengantar saya sekolah dahulu. Mengajarkan saya kemandirian untuk datang ke sekolah sendiri. Meski ada kenyataan pahit yang perlu disadari jika perceraian, kematian Bapak akan menjadi kekhawatiran di masa depan.

Toh, ibu saya hidup di zaman berbeda kultural. Ini bukankah zaman millenial dan smartphone sebagai penghubung semua orang. Sayangnya tak se-smart penggunanya. Saya lebih banyak menemukan anak-anak yang diasuh oleh pembantunya. Pendidikannya terkadang hanya setara dengan SD. Lalu percayakah kita memegang nasib anak-anak kita pada mereka. Ibu pernah berujar pada tetangga, "Galak banget sama anak Teh, sesar ya lahirnya." Sembari tertawa. Segitunya rasa sakit saat melahirkan menghilangkan kesan cinta pada anak-anaknya sendiri. Itu baru galak pada anak apalagi 'menyerahkan anak" pada orang lain.

Mungkin saya berpandangan terlalu jauh. Terlalu muluk. Selain ketidak pastian keuangan di masa depan. Tetapi, bukankah zaman ibu saa dan saya berbeda. Zaman telah berganti dan menjamurnya financial planner bagi ibu juga menjadi alternatif di masa mendatang. Mengelola uang dengan online shop alias mompreneur, unit link investasi asuransi, deposito, reksa dana. Semua bisa menjadi alternatif bagi seorang ibu yang  cerdas bukan?

<3 source: tumblr.com

Ibu yang pendidik yang cerdas menghasilkan anak-anak yang cerdas pula.




Tulisan panjang. April-May 2014
Depok. 23:35 pm Finished 10 May 2014