7/29/14

Belajar Jadi Wanita Dewasa

Ternyata banyak hal yang bisa dilihat seseorang itu dewasa apa engga. Sekarang umur gue udah hampir 22 tahun. Gue masih suka nangis padahal masalahnya sepele. Masalah yang harusnya ga usah di lebih-lebihin hahaha. Sangunis Melankolis emang ga asik. Tapi pengkotakan dengan pribadi kaya gitu kan ga sesuai. Manusia sudah fitrahnya jadi bisa marah, nangis atau ketawa. Oke back to the main topic:  Masalah transisi kedewasaan sedang gue alami sangat amat dahsyat. Dimana gue belajar di Idul Fitri ini untuk memaafkan dan bergerak maju. Walaupun mungkin masih sedih. Tapi lucu aja. Gue ngelihat diri sendiri yang ga dewasa ini. Akhirnya gue ngaca kalau gue nangis itu jelek banget. Gue ngaca gue terlihat sangat tua tapi kelakuan ga lebih dari anak kecil. Kalau kecewa wajar buat nangis. Tapi ya ga nangis terus-terusan juga. Gue harus bertransisi dan menerima keadaan dengan emosi yang lebih baik. Gue yakin masalah gue akan selesai dengan sendirinya. Masalah gue yang masih stay di tempat dan ngenang masa lalu itu buruk banget tingkatnya. Gue ga belajar apa yang ada sekarang harus dijalanin dan yang lalu harus dijadiin pelajaran. Banyak di luar sana yang akan ngasih kebahagian bukan dengan meratapi masa lalu kaya gini,  asalkan gue memantaskan untuk hal itu. Kalau masih terjebak sama hal-hal yang bikin emosi gue naik turun artinya gue belum ikhlas dan mau maju ke depan. Sesekali memang harus menengok ke belakang. Tapi ayolah Bel, belajar untuk memaafkan dan siap buat mengejar bintang yang baru. Tuhan sudah siapkan bukan?

Selain dari sisi itu gue belajar juga bahwa ga boleh terus-terusan nyalahin orang lain yang lagi bersikap unmood atau marah berarti dia marah juga sama kita. Gue kadang berpikir terlalu banyak yang gue pikirin atas orang itu murni kesalahan gue. Padahal kan ga gitu. Gue harus nerima di luar sana banyak orang terlihat jutek tiba-tiba murni bukan salah gue saat itu. Itu bisa jadi karena temennya, pacarnya, makan siangnya, film favoritnya, grup liga kesayangannya kalah, klien yang maki-maki, dan lain sebagainya. Kecuali memang saat itu gue di marahi. Jadi kalau gue lagi ga salah apapun. Jangan pernah suudzon itu karena kesalahan gue. Gue sensitif banget emang. Dan ini musti disadarin dari sekarang.

Gue juga belajar bahwa kekanak-kanakan itu dimana menyikapi saat keadaan yang ga sesuai dan gue ngasih emosi negatif disitu. Misal kaya kalian ngambek sama orang tua dan ga bisa ngurung diri di kamar atau mogok makan. Seharusnya kalian harus ngomong heart to heart baik sama nyokap atau bokap. Menyikapi keadaan dengan emosi negatif sama saja ke kanak-kanakan. Harus belajar dewasa. Dengan menerima ala emosi positif. Gue sekarang merasakan gimana berusaha ga ngambek. Lebih ngedengerin cerita-cerita nyokap di masa lampau dan dengerin petuahnya. Looks so oldies dan butuh buat kedewasaan tersendiri. Yang mana dulu waktu gue remaja, gue lebih sering curhat ke temen gue sendiri. Padahal tanpa harus cerita ke nyokap. Cukup dengerin dia ngomong itu udah jadi masukan dan pembelajaran dan anehnya itu selalu terjadi. Nyokap selalu ada aja petuahnya di cerita sana sini. Walaupun kadang pikiran dan teknologi yang dia omongin udah ga relevan di masa sekarang. Tapi moral storynya selalu ada yang bisa gue ambil.

Sekarang, gue juga harus belajar untuk dapet tanggung jawab yang lebih besar. Ibaratnya kalau dulu waktu kecil mecahin piring, nangis, terus mamah sambil ngomel-ngomel dan dia yang beresin. Sekarang kalau salah ya harus kita benerin, disapulah belingnya biar ga kena orang lain. Harus mulai kaya gitu. Dengan tanggung jawab yang lebih besar Pak M bilang saat gelas 'kerjaan' penuh. Bukan menyalahkan pekerjaannya. Tapi coba tinggiin gelasnya. Gue juga ga tahu siap atau engga buat fase itu. Semoga disiapkan Tuhan.

Kematangan emosi mengelola keuangan juga ga bisa diambil dari jurusan akuntansi yang gue punya. Karena di situ hati gue main. Dalam arti kata hati untuk positif ya bukan berarti shopping satu malam *lagu dangdut haha* . Di situ akuntansi ga ngajarin matematika Tuhan. Alhamdulillah Gue belajar lagi untuk kesempatan kedua gue yaitu kuliah pakai uang sendiri. Gue belajar lagi buat apapun yang gue punya sekarang bukan milik gue. Tapi masih milik orang-orang yang berjasa sama hidup gue dan yang ngebutuhin. Di berbagi nasi depok gue belajar masihhhhh banyak orang yang ga punya rumah dan tidur di jalanan atau gerobak sampah. Disitulah kebahagaian buat berbagi enak banget rasanya. Gue belajar juga untuk ngalah sama nyokap soal kebutuhan Putri. Gue ga boleh egois sama hidup gue. Mungkin banyak orang yang kepengen gadget baru bisa selfie ala 40 mega pixel dengan beauty camera tentunya haha. Tapi gue gatahu umur nyokap sampe berapa tahun. Dan gue bakal nyesel beli gadget mahal tapi ga bisa beliin nyokap apa-apa. Ga bisa bahagian dia pas dia masih ada. Tadi sore gue juga baru aja nengok tante gue yang udah kena jantung. Apa masih ga ngeri tentang umur ortu kita, siapa yang tahu kecuali Tuhan kan. Jadi seberapa pun gaji lo sekarang. Inget buat bagi ortu dan buat orang yang ngebutuhin. Gue yakin rezeki jalannya dari mana aja. Dari tanah, air, bumi dan udara *Aang Special Edition* Ini beneran serius. Inget Allah bakal nolong hamba yang sudah mau nolong hamba-Nya.

Jadi gue mau ga mau harus menerima dengan senyuman bahwa gue sudah harus bertransisi dengan kematangan pikiran, ngelaksanain semua hal dengan suka cita, juga belajar menerima hal dengan tetap berlaku positif.

Selamat Idul Fitri 1435 H. Mohon dimaafkan kalau postingan ku suka ga jelas. Mari saling memaafkan dan bergerak maju.

Sekian.

Depok. 21:08 pm  29/7/14

7/27/14

Perempuan dan Kepastian

Bagaimana jika kamu menjadi aku? Perlukah kamu mengganti peranmu sebagai perempuan dengan begitu kamu lantas mengerti dan memahami kami.

Kalau kamu bertanya apa mau perempuan? Kami adalah peminta kepastian masa depan. Bukan sekedar kepastian tentang perasaan. Jauh lebih dari itu bila mereka telah tumbuh dewasa. Kepastian itu adalah hidup kami. Hidup keluarga kami nanti. Hidup anak-anak kami. Yang mungkin sepenuhnya ada ditangan kekarmu. Baginya kepastian masa depan adalah harga yang harus dibayar mahal.

Anehnya, saat mereka diberi. Mereka akan menimbang-nimbang kepastian itu sendiri. Benarkah mereka mendapat kepastian? Mereka akan menimbang faktor lainnya selain kemapananmu. Begitulah perempuan. Sulit dimengerti terkadang.

Apabila kamu tidak memberi kepastian sekarang. Jangan khawatir. Aku akan menginvestasikan potensimu sekarang dan berbuah kepastian di masa depan. Seperti investasi yang akan dipetik nanti juga bukan? :)

Jangan risau. Aku membersamai perjuangmu sekarang hingga nanti. Untuk saling menghargai dan menyadarkan bahwa hidup akan berputar pada rodanya dan tak bisa memberi kepastian masa depan yang baik selamanya. Setidaknya dengan itu aku punya harga di matamu.

Asalkan sekarang, jangan berhenti melangkah dengan tegap dan lelah untuk yakinkan Ibu dan terutama Ayahku jika kamu mampu. Langkahmu kudoakan selalu.

#Fiksi Depok. 19:37 pm. 26/7/14

7/23/14

Jangan Pernah

Jangan pernah berharap kepada manusia. Camkan itu!

Harapannya ke Allah aja. Allah bisa ngasih yang baik bahkan terbaik. Cuma masalah percaya apa engga. Semua balik lagi ke masalah iman. Lagi lemah ya gitu pasti nangis. Lagi kuat pasti senyum dan percaya Allah pasti bantu. Semoga Allah terus berikan nikmat iman dan kepercayaan ke kamu Bel.

Aamiin ya Rabbal Alamin :)

7/10/14

Seandainya Kamu Penulis

Seandainya kamu penulis layaknya penulis generasi X yang mengedepankan sisi Islam juga Tuhan sekaliber Azhar, Gun atau Yunus Kuntawiaji.


Seandainya kamu penulis dan mengunggah pikiranmu dalam halamanmu sendiri bukan media sosialmu.
Seandainya kamu penulis...


Nyatanya kamu bukan penulis :D


Meski, aksaraku tumpah sejak lama. Sembari menerjemahkan aksaramu yang hanya bermain di kepala. Kamu yang sedang menimbang-nimbang, membaca, membookmark, melihat, mengadu pada teman karibmu, menjadi lupa siapa aku, fiksikah, nyatakah ceritaku, lalu setelah selesai membaca pergi berlalu begitu seterusnya. Bukankah, menjadi rutinitas yang membosankan bukan?


Ini hanya berandai-andai :))


Namun, Istri Azhar menyadarkanku. Ia tak pernah membaca buku Azhar. Karena lupa menaruhnya dimana.
Ternyata: You can't always get what you want. Cukup saling melengkapi -kita-


- Depok. 00:36 am 10/7/14

7/8/14

Yuk Ke Madrid

Oknum W: Bel, lo musti ikutan yak. Ke Kota Kasablanka. Wiken jadi ga ganggu kerjaan lo. Lo latihan pakai tab gue. Tenang aja gue traktir.... Pehleasssssss....


Gue: Okeeeeh gue ikutan tapi ngapain sikkk?



Oknum W: Main bola wkwkwkwkwkwkwkwk

Gue: Hadeeehhhh

Kemudian ketawa lagi hahahha

Gue : Gapapa deh gapapa hadiah nya....  apaaa.... hadiahnya apaaasaa? *semangat berapi api banget* *Udah bayangin uang tunai depan*

Oknum W: Ke madrid *muka polos*

Gue: HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA


Oknum W: HAHAHAHAHAHA

Gue tau Oknum W Ketawa sambil bayangin gue ke Madrid dengan muka oon gitu...

.
*yakali gue kan ga suka bola hahaha impian gue ke dubai bukan ke sanaaaa akkkkkk*

Oknum W: Ga menang juga ga papa.

Gue: Okeh :))) Dapet apaaaa?

Oknum W: Kaosssss atau engga gelas

Gue : -_____-

Sekian.
21:48 pm

7/7/14

Jika Ternyata Kamu Bukan Laki-Laki Baik

Jika ternyata kamu bukan laki-laki baik setidaknya saat ini dari kacamataku, aku sendiri juga bukan wanita baik. Allah hanya tengah menutup semua aib-aibku.

Kacamataku mungkin sedang retak atau pecah sehingga percayalah hanya mata Tuhanlah yang patut kita percayai. Baik dimata Tuhan buanlah tentang satu amalan sekedar sholat atau hafalan. Jauh lebih besar dari itu. Dan Tuhan akan memantaskan dengan total. Bukan partial dan perbagian yang sekarang kulihat dari kacamata retakku ini.

Jika ternyata kamu bukan laki-laki baik. Kemudian, jatuh cinta padaku. Lalu, tiba-tiba sholat yang menjadi berat bagimu kau lakukan dengan terpaksa lalu lama-lama terbiasa bahkan sekarang tak perlu lagi sepenglihatanku. Aku tak tahu ingin berkata apa. Definisi baik, kini menjadi bias dan anomali di mataku.
Aku tahu, saat ini engkau tengah memperbaiki diri. Pun begitu aku. Mungkin kacamata kudaku yang selama ini salah menilai bagaimana laki-laki baik itu sendiri.

Akan menjadi percuma bila hafalanmu sampai 20 juz tapi lupa mengamalkannya. Menggoda wanita sana sini atad nama besar 'ikhwan" yang tersandang dan tercetak di kepalamu. Akan menjadi percuma, status hafalanmu di pamerkan di semua ranah social mediamu.

Kita memang manusia. Letaknya salah. Hanya akan menjadi kesiaan-siaan semata: Jika ilmu yang kau punyai beriringan tanpa akhlak disampingnya. Sekarang, aku mulai percaya bahwa baik tidak bisa menjadi tolak ukur mutlak. Bahkan aku lebih percaya, letak pengetahuan tertinggi ada pada akhlak semata.
Jika tujuan kita sama. Kereta yang melaju ini akan mempertemukan dan menyatukan niat yang sama lagi mulia bahkan pada gerbong yang sama pula. Semoga saja demikian.

Kuharap, hanya karena Allahlah perbaikan diri kau dan aku. Jangan yang lain apalagi aku... Karena menjadi berhalamu bukan tujuanku. Kuharap begitu.

-#Fiksi Depok , 00:08 am 8 July 2014

7/6/14

Ingin

Source: By Tumblr 


Ada hal-hal yang ingin aku lakukan, namun aku sendiri takut dan disadarkan. Jari-jariku terkadang gatal. Tapi aku tak bisa lakukan hal itu. Aku merasa diperhatikan oleh-Nya. Disaat yang lain dengan bebasnya memberimu -yang sebenarnya adalah perhatian semu. Sekarang, justru aku yang menunjukmu Penakut kala itu menjadi akulah yang sebenarnya Sang Penakut itu sendiri.


Aku baru merasakan bahwa takut dan keberanian adalah batas yang sangat tipis. Keberanian akan menjadi kosong nilainya bila tidak diiringi niat yang mulia lagi benar. Niat yang sejatinya murni karena Tuhan kita. Bukan yang lain. Dan takut juga bukan alasan aku dan kau untuk berpaling dari keberanian bukan? Keberanian hakiki bukan dengan cara melanggar. Letakan saja semua keberanian itu pada tempat yang mulia. Seandainya kau mengerti, memahami lalu melaksanakan itu


Keberanianku hanya muncul dengan doa. Memohon ini, memohon itu. Ah pintaku banyak sekali dan belum pernah aku se-semangat ini bahkan termasuk didalamnya mendoakan orang lain yang asing. Aku sering bertanya: Apakah orang lain yang asing ini pantaskah aku doakan? Mungkin, Tuhan pun akan menjawab itu pada hari kemudian. Jangan salah sangka lalu besar rasa. Aku hanya mendoakan kebahagianmu pun begitu kebahagianku juga. Bukan dengan cara mendikte Tuhan agar kau serta merta jadi milikku. Aku tak pernah yakin dirimu bagiku baik dan bagi kau, aku ini baik. Hanya Tuhan yang pantas menilaimu, juga aku. Jika saja sekarang, baik aku dan kamu adalah baik di hadapan sesama manusia seperti kita. Tuhan hanya sedang menutup aib-aib itu... Jadi,   jangan pernah dirimu dan aku sama-sama mengaku baik.


Dan jangan juga mengira aku tak melakukan apa-apa. Hanya membiarkan mereka dengan caranya dan aku dengan caraku sendiri... Perantaraku bukan lagi jari-jari.  )* Cukup Tuhan sampaikan semua hal yang aku ceritakan pada-Nya tentangmu. Tepat dan langsung ke hatimu saja.



#Fiksi Depok. 20:48 pm -16.05 pm 1 2 -7 Ramadhan 1435  H.  6/7/14
)*© Kurniawan Gunadi

7/2/14

Teruntuk: Perempuan

"To my daughters and sisters: Don’t fall for his words, fall for his actions."
Shaykh Waleed Basyouni

via : - http://ahyasidi.tumblr.com/