10/19/14

Wise Words (might) from God

God won't ask what kind of car you drove, but will ask how many people you drove who didn't have transportation.

God won't ask the square footage of your
house, but will ask how many people you
welcomed into your home.

God won't ask about the fancy clothes you had in your closet, but will ask how many of those clothes helped the needy.

God won't ask about your social status, but will ask what kind of class you displayed.

God won't ask how many material possessions you had, but will ask if they dictated your life.

God won't ask what your highest salary was, but will ask if you compromised your character to obtain that salary.

God won't ask how much overtime you
worked, but will ask if you worked overtime for your family and loved ones.

God won't ask how many promotions you
received, but will ask how you promoted
others.

God won't ask what your job title was, but will ask if you reformed your job to the best of your ability.

God won't ask what you did to help yourself, but will ask what you did to help others.

God won't ask how many friends you had, but will ask how many people to whom you were a true friend.

God won't ask what you did to protect your rights, but will ask what you did to protect the rights of others.

God won't ask in what neighborhood you
lived, but will ask how you treated your
neighbors.

God won't ask about the color of your skin, but will ask about the content of your character.

God won't ask how many times your deeds matched your words, but will ask how many times they didn't.

(Source Unknown)

-For all of you who already forgotten this... ^_^ Sambil nonton nagita rafiah :* plus besok Nunggu kelancaran mustahil gitu di sudirman -** *leyeheyehditaksi*
20:58 Depok 19/10/14

10/18/14

Untitled

Ada banyak hal yang saya alami hari hari belakangan. Hari hari dimana saat saya absen menulis. Sebenarnya saya tidak absen. Saya hanya alfa untuk mengeklik tombol as to publish saja. Tidak lebih dari itu. Saya menulis dua tulisan. Lalu tersimpan sebagai draft. Saya menulis segala hal dalam pikiran saya sendiri ketika itu. Ah mungkin ini saatnya, saat saya hanya perlu ruang pemisah dimana saya dan pembaca punya ruang sendiri sendiri. Kurang lebih sebagai cara saya untuk menghargai privasi saya sendiri.

Akhirnya... hari hari saya dipenuhi dengan perenungan, membaca, bekerja, melalui hidup yang sehari-harinya di kereta, atau kantor baru, orang orang baru, terkadang sembari membaca jurnal orang lain saat kerjaan selesai, memetik pelajaran dalam jurnalnya, bernafas, beribadah, mencium sajadah, kemudian bermimpi dalam tidur pendek dalam kereta atau musholla.

Sebetulnya, saya melalui hari-hari yang mengejutkan. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya belakangan. Hidup keluarga saya. Teman teman saya. Sahabat saya. Hubungan saya dengan Tuhan. Iman saya.

Kemudian saya sendiri sebagai manusia.

Saya memandang semuanya dengan perasaan bahwa inilah hidup dengan semua gelombang indahnya. Turun, datar, naik, turun drastis, naik drastis. Saya merasa bersyukur kesekian kalinya kepada Tuhan. Saya terdewasakan dengan cukup melewati semua gelombang indahnya hidup. Mengerti maknanya. Membaca lagi aturan mainnya dalam Kitab-Nya. Saya belajar banyak tentang apa sebenernya hidup. Mengapa kita harus bersyukur kita ini hidup. Apa tujuan kita hidup. Apa yang bermakna dalam hidup. Apa dan siapa sebenarnya saya dalam hidup. Apa yang sudah saya beri untuk orang lain dalam hidup.

Filosofis yang terlalu kental...

Ah ini hanya tulisan mengenai eksistensi saya sendiri.

Tapi setidaknya saya perlahan-lahan mulai menerima. Mengikhlaskan pada Allah semata. Sehingga dapat memandang hidup dengan sisi lain. Tentunya lebih baik, percaya diri, optimis, dan bersyukur. Saya sedang berusaha membebaskan dan memerdekakan sendiri kemana kaki saya melangkah, dan mengetahui tujuan yang jelas pada akhirnya. Kita semua pembelajar dalam hidup, akan menjadi bagian perjalanan hidup dengan cara terbalik di Sekolah formal. Sekolah sebenernya dalam kehidupan Tuhan dengan cara diberi ujian terlebih dahulu barulah memetik hikmah dan dapat belajar. Dan patut dicamkan Pelaut ulung tidak pernah terlahir dari laut yang tenang bukan?

Dan sekarang... Saya sedang berharap lebih pada... pada harapan harapan Hidup yang semoga disemogakan, dilancarkan dengan bantuan tangan Allah, orangtua, teman, sahabat, atau orang lain sebagai perantara semata. Saya harus percaya :) Saya percaya :)

10/16/14

Jangan

Jangan menikahi perempuan karena kecantikannya; karena kecantikannya bisa jadi akan menghinakannya. Jangan menikahi mereka karena hartanya, karena hartanya bisa jadi akan memperdayakannya. Tapi nikahilah mereka karena agamanya. Dan sungguh, budak perempuan hitam yang cacat, tetapi memiliki agama itu lebih utama.

HR. Ibnu Majah