7/23/14

Jangan Pernah

Jangan pernah berharap kepada manusia. Camkan itu!

Harapannya ke Allah aja. Allah bisa ngasih yang baik bahkan terbaik. Cuma masalah percaya apa engga. Semua balik lagi ke masalah iman. Lagi lemah ya gitu pasti nangis. Lagi kuat pasti senyum dan percaya Allah pasti bantu. Semoga Allah terus berikan nikmat iman dan kepercayaan ke kamu Bel.

Aamiin ya Rabbal Alamin :)

7/10/14

Seandainya Kamu Penulis

Seandainya kamu penulis layaknya penulis generasi X yang mengedepankan sisi Islam juga Tuhan sekaliber Azhar, Gun atau Yunus Kuntawiaji.


Seandainya kamu penulis dan mengunggah pikiranmu dalam halamanmu sendiri bukan media sosialmu.
Seandainya kamu penulis...


Nyatanya kamu bukan penulis :D


Meski, aksaraku tumpah sejak lama. Sembari menerjemahkan aksaramu yang hanya bermain di kepala. Kamu yang sedang menimbang-nimbang, membaca, membookmark, melihat, mengadu pada teman karibmu, menjadi lupa siapa aku, fiksikah, nyatakah ceritaku, lalu setelah selesai membaca pergi berlalu begitu seterusnya. Bukankah, menjadi rutinitas yang membosankan bukan?


Ini hanya berandai-andai :))


Namun, Istri Azhar menyadarkanku. Ia tak pernah membaca buku Azhar. Karena lupa menaruhnya dimana.
Ternyata: You can't always get what you want. Cukup saling melengkapi -kita-


- Depok. 00:36 am 10/7/14

7/8/14

Yuk Ke Madrid

Oknum W: Bel, lo musti ikutan yak. Ke Kota Kasablanka. Wiken jadi ga ganggu kerjaan lo. Lo latihan pakai tab gue. Tenang aja gue traktir.... Pehleasssssss....


Gue: Okeeeeh gue ikutan tapi ngapain sikkk?



Oknum W: Main bola wkwkwkwkwkwkwkwk

Gue: Hadeeehhhh

Kemudian ketawa lagi hahahha

Gue : Gapapa deh gapapa hadiah nya....  apaaa.... hadiahnya apaaasaa? *semangat berapi api banget* *Udah bayangin uang tunai depan*

Oknum W: Ke madrid *muka polos*

Gue: HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA


Oknum W: HAHAHAHAHAHA

Gue tau Oknum W Ketawa sambil bayangin gue ke Madrid dengan muka oon gitu...

.
*yakali gue kan ga suka bola hahaha impian gue ke dubai bukan ke sanaaaa akkkkkk*

Oknum W: Ga menang juga ga papa.

Gue: Okeh :))) Dapet apaaaa?

Oknum W: Kaosssss atau engga gelas

Gue : -_____-

Sekian.
21:48 pm

7/7/14

Jika Ternyata Kamu Bukan Laki-Laki Baik

Jika ternyata kamu bukan laki-laki baik setidaknya saat ini dari kacamataku, aku sendiri juga bukan wanita baik. Allah hanya tengah menutup semua aib-aibku.

Kacamataku mungkin sedang retak atau pecah sehingga percayalah hanya mata Tuhanlah yang patut kita percayai. Baik dimata Tuhan buanlah tentang satu amalan sekedar sholat atau hafalan. Jauh lebih besar dari itu. Dan Tuhan akan memantaskan dengan total. Bukan partial dan perbagian yang sekarang kulihat dari kacamata retakku ini.

Jika ternyata kamu bukan laki-laki baik. Kemudian, jatuh cinta padaku. Lalu, tiba-tiba sholat yang menjadi berat bagimu kau lakukan dengan terpaksa lalu lama-lama terbiasa bahkan sekarang tak perlu lagi sepenglihatanku. Aku tak tahu ingin berkata apa. Definisi baik, kini menjadi bias dan anomali di mataku.
Aku tahu, saat ini engkau tengah memperbaiki diri. Pun begitu aku. Mungkin kacamata kudaku yang selama ini salah menilai bagaimana laki-laki baik itu sendiri.

Akan menjadi percuma bila hafalanmu sampai 20 juz tapi lupa mengamalkannya. Menggoda wanita sana sini atad nama besar 'ikhwan" yang tersandang dan tercetak di kepalamu. Akan menjadi percuma, status hafalanmu di pamerkan di semua ranah social mediamu.

Kita memang manusia. Letaknya salah. Hanya akan menjadi kesiaan-siaan semata: Jika ilmu yang kau punyai beriringan tanpa akhlak disampingnya. Sekarang, aku mulai percaya bahwa baik tidak bisa menjadi tolak ukur mutlak. Bahkan aku lebih percaya, letak pengetahuan tertinggi ada pada akhlak semata.
Jika tujuan kita sama. Kereta yang melaju ini akan mempertemukan dan menyatukan niat yang sama lagi mulia bahkan pada gerbong yang sama pula. Semoga saja demikian.

Kuharap, hanya karena Allahlah perbaikan diri kau dan aku. Jangan yang lain apalagi aku... Karena menjadi berhalamu bukan tujuanku. Kuharap begitu.

-#Fiksi Depok , 00:08 am 8 July 2014

7/6/14

Ingin

Source: By Tumblr 


Ada hal-hal yang ingin aku lakukan, namun aku sendiri takut dan disadarkan. Jari-jariku terkadang gatal. Tapi aku tak bisa lakukan hal itu. Aku merasa diperhatikan oleh-Nya. Disaat yang lain dengan bebasnya memberimu -yang sebenarnya adalah perhatian semu. Sekarang, justru aku yang menunjukmu Penakut kala itu menjadi akulah yang sebenarnya Sang Penakut itu sendiri.


Aku baru merasakan bahwa takut dan keberanian adalah batas yang sangat tipis. Keberanian akan menjadi kosong nilainya bila tidak diiringi niat yang mulia lagi benar. Niat yang sejatinya murni karena Tuhan kita. Bukan yang lain. Dan takut juga bukan alasan aku dan kau untuk berpaling dari keberanian bukan? Keberanian hakiki bukan dengan cara melanggar. Letakan saja semua keberanian itu pada tempat yang mulia. Seandainya kau mengerti, memahami lalu melaksanakan itu


Keberanianku hanya muncul dengan doa. Memohon ini, memohon itu. Ah pintaku banyak sekali dan belum pernah aku se-semangat ini bahkan termasuk didalamnya mendoakan orang lain yang asing. Aku sering bertanya: Apakah orang lain yang asing ini pantaskah aku doakan? Mungkin, Tuhan pun akan menjawab itu pada hari kemudian. Jangan salah sangka lalu besar rasa. Aku hanya mendoakan kebahagianmu pun begitu kebahagianku juga. Bukan dengan cara mendikte Tuhan agar kau serta merta jadi milikku. Aku tak pernah yakin dirimu bagiku baik dan bagi kau, aku ini baik. Hanya Tuhan yang pantas menilaimu, juga aku. Jika saja sekarang, baik aku dan kamu adalah baik di hadapan sesama manusia seperti kita. Tuhan hanya sedang menutup aib-aib itu... Jadi,   jangan pernah dirimu dan aku sama-sama mengaku baik.


Dan jangan juga mengira aku tak melakukan apa-apa. Hanya membiarkan mereka dengan caranya dan aku dengan caraku sendiri... Perantaraku bukan lagi jari-jari.  )* Cukup Tuhan sampaikan semua hal yang aku ceritakan pada-Nya tentangmu. Tepat dan langsung ke hatimu saja.



#Fiksi Depok. 20:48 pm -16.05 pm 1 2 -7 Ramadhan 1435  H.  6/7/14
)*© Kurniawan Gunadi

7/2/14

Teruntuk: Perempuan

"To my daughters and sisters: Don’t fall for his words, fall for his actions."
Shaykh Waleed Basyouni

via : - http://ahyasidi.tumblr.com/

6/25/14

Part 1: Alhamdulillah: Mengenang Kenangan Silaturahim Nasional Bidik Misi 2014

Ulah oknum P yang sempat menggerkan nama kampus saya Politeknik Jakarta dan cermin dunia pendidikan di Indonesia. Penerima beasiswa Bidik Misi yang ayahnya waktu itu sampai jual ginjal. Sekarang anaknya kabur dan hamil di luar nikah. Oknum P. Kabarnya sudah di berhentikan. Tetapi saya bersyukur. Yang dari dulu saya susah sekali untuk mengenalkan apa dan dimana itu Politeknik Negeri Jakarta. Sekarang kenal gara-gara kasus Oknum P. Dulu kan orang baru ngangguk kalau tahu namanya Politeknik UI yang letaknya di dalam Universitas Indonesia. Bukan berarti alergi atau "nebeng" sebuah nama besar. Toh Politeknik hadir lebih dulu. Dan meskipun begitu. Saya bangga bisa menjadi bagian dari almamater kuning saya. Saya bangga sekali lulus dari sana.  


Oke, Agar tidak menjadi generalisasi oknum P. Mari saya ceritakan sepenggal kisah saya.



Waktu zamannya saya SMA di SMAN 3 Depok tercinta. Saya paling anti dengan kata UI. Selain saya ga mau kuliah di Depok-Depok lagi. Toh impian saya untuk bisa meraih jenjang lebih tinggi rasanya harus di pudarkan. Kalau temen sekelas saya ngacung mau pada masuk UI. Saya sendirian yang mau jadi guru di UNJ. Saya terbiasa jadi minoritas. Tapi lagi-lagi saya harus bangun dari mimpi saya sendiri. Uang tabungan minimal satu juta saja Ibu dan Ayah tidak punya. Ya apa mau dikata. Apalagi tetangga sana sini nasehati. Jangan mimpi. Kasihan orang tua. Cari kerja saja nanti di Pasar banyak. Ya Allah... hancur sekali hambamu ini... Atau saran yang lain jadi buruh saja, kaya Oknum N di PT S*nyo dekat dengan rumah saya di Depok. Saya ga pernah bisa ngebayangin dan ngejalanin jadi buruh yang berdiri sepanjang waktu padahal sudah sekolah 9 tahun jauh jauh dan hanya sampai di situ. Bukan berarti saya meremehkan. Tapi kalau kalian ada di posisi saya rasanya bagaimana? Apa saya ga boleh punya mimpi. Saya bertanya-tanya. Dimana sesungguhnya keadilan Tuhan. Saya sudah berusaha untuk menjadi setidaknya dengan cara saya belajar sungguh-sungguh lalu dapat ranking dan mendapat PMDK UNJ. Kenapa saya yang punya otak. Harus kalah sama keadaan? Harus kalah dengan uang?


Pernah suatu ketika, Guru Sosiologi SMA saya yang mengajar IPS (saya IPA) dan memegang tagihan buku menghardik Ibu Saya dengan keras. Ibu A tersebut bilang seperti ini "Ibu kalau mau nyekolahin anak ya jangan nekat. Apa-apa tuh semua butuh uang ga ngutang apalagi gratis."



Hancurlah hati ibu dan saya... saya tak tahu kalau ternyata Nurani seorang guru masih ada yang seperti itu... Ibu A, Ibu tahu kata-kata ibu tetap menjadi pemicu semangat saya untuk suatu saat membuktikan ke Ibu. Mungkin sekarang belum. Tapi ibu doakan saja.


Setelah itu saya menggagalkan mimpi saya untuk ke IPB. Dua ratus ribu saja untuk PMDK mencarinya setengah mati. Saya merasa gagal dan tak punya Tuhan. Curhatlah Ibu (Ibu saya tipe cerewet dan nekat) kepada wali kelas saya, Bapak A. Akhirnya setelah IPB terlewatkan. Allah masih sayang sama saya jalur PMDK lainnya. PMDK UGM, yakni untuk jalur tidak mampu dan berprestasi. Gimana engga mau. Disitu saya ambil berkas-berkas. Saya isi lain-lainnya. Semuanya bisa saya penuhi. Mulai dari nilai rata-rata harus 8. Pendaftaranpun GRATIS. Namun, Allah ternyata ga kasih izin lewat orangtua saya. Apalagi Ibu yang sampai sekarang ga pernah ngasih saya kebebasan buat ngekos. Ibu udah khawatir terlalu besar duluan dengan pergaulan mahasiswa yang nantinya begajulan. Malah sampe nuduh nanti balik-balik malah bawa anak dan lainnya. Takut saya yang ga mampu jual ini itu... Ibu segitu kejamnya.. Saya tiap hari ribut dengan Ibu soal pilihan saya ini. Akhirnya saya menyerah dan mengalah. Ibu bilang kalau mau kuliah yang deket-deket aja  dan ga ngabisin ongkos.



Hari hari berlalu... Akhirnya hari itu saya ingat betul, sehabis istirahat Pak A, wali kelas saya memanggil saya ke lapangan upacara. Brosur sebuah pendidikan tinggi. Yakni Politeknik Negeri Jakarta. Tertera jalur masuk Berprestasi tetapi tidak mampu. Pendaftarannya gratis. Kemudian setelah itu Ibu dengan semangat 45 bilang kalau itu diambil saja. Dekat dengan rumah. Ga harus kos segala. Ya Allah... Doa Ibu manjur banget...
Hingga akhirnya cita-cita menjadi guru matematika langsung berbelok jurusan ke Akuntansi. Toh akuntansi bukannya ada matematikanya juga. Sok tahu hahaha. Padahal engga gitu. Saat itu buta sekali sama yang namanya akuntansi. Karena Ibu dan Bapak ga ngerti ini itu saya juga bingung sendiri milih jurusan apa. Kalau teknik saya ga bisa gambar perspektif yang susahnya naudzubillah hahaha. Pak M alias Pak E dengan nama alias yang banyak sekali karena sebagai komite kedisplinan waktu itu. Benar-benar memberikan saya nilai G. Alias GAGAL hahaha. Jadi tiap gambar dibantuin sama temen sebangkuh : ANI minimal dapet D hahaha. Ani yang satu PNJ dan jurusan juga ternyata. Disitulah kecintaan saya terhadap sains harus luruh dengan akuntansi. Mamah Windy yang lwbih ngerti juga mgsrshin saya kesitu heheh. Makasih tante, sekarang saya udah jatuh cinta banget sama akun hehe maaf ya Bella belum bisa bales sekarang jasa-jasanya banyaaakkk banget {}
Waktu itu. Hari Jumat pendaftaran terkahir saya dan kawan kawan. Pak S. Guru BP saya ga mau nganterin berkas-berkasnya cuma gara-gara alasan lagi yakni hujan dan ga ada duitnya ngurusin siswa model gini.
:(
Akhirnya hujan-hujan sampai pukul 3 sore saya dan Oknum M bertemu dengan Pak Y di PNJ. Alhamdulillah berkas kami lengkap jadi tidak perlu bolak balik lagi. Ada seorang siswa perempuan yang menangis karena rumahnya jauh di Bojong namun pendaftaran mau tutup karena berkasnya tidak lengkap... :(
PMDK UNJ yang saya harapkan harus kandas. Karena sekolah hanya memberikan PMDK satu kali kecuali sudah ada pengumuman dan kalian gagal. Oknum O. Ternyata di terima dijurusan Biologi UNJ. Menjadi bahan bakar dan pemicu saya. Saya makin harus nguatin doa. Pengumuman PNJ emang lama sekali. Dinding lemari saya penuhi dengan kertas impian yang saya lihat tiap malam. Bio twitter juga saya ubah sesuai dengan mimpi saya. Siapa tahu visualisasi yang jadi nyata. Siapa tahu... Kalau tidak mungkin jalan hidup saya sudah di gariskan seperti itu oleh Tuhan. Saya rapoporaisa *apa deh*



JRENG. Pengumuman tiba, saya di SMS oknum Y, untuk datang ke Sekolah.


Dari 450 applicants Bidik Misi Scholarship tahun 2010. Diterima 75 orang yang lolos termasuk saya. Nama saya tertera di papan pengumuman sekolah. Alhamdulillah sujud syukur Ya Allah. Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam.


Dengan bebas segala-galanya. Bebas Uang Kuliah. Uang pangkal. Bahkan diberi living costs setiap bulan yang jumlahnya sangat banyak. Diantara beasiswa lainnya di kampus saya. Saya rasa ini beasiswa yang paling wah... Karena pemerintah ga main main untuk mengucurkan dananya... Yah walaupun beberapa kali sangat amat tersendat dana ini untuk cair. Allah nguji kenikmatan juga dengan kesabaran :)))



Sekarang, sudah tiga tahun berlalu. Alhamdulillah dapet pelajaran yang banyak juga diluar kampus dengan konsekuensi nilai saya anjlok di semester 5 karena dagang hahaha. Alhamdulillah juga ditotalin masih dikasih hadiah cumlaude. Puji syukur banget.


Dan Allah lagi nguatin pundak untuk nahan mimpi mimpi saya yang lain. Sekarang, lagi bergelut sama kreatif industri yang asik.


Meski saya belum sukses. Masih banyak ngeluh ini itu. Saya harus inget. Saya bukan pemakai beasiswa ini biasa biasa saja. Saya dan penerima beasiswa Bidik misi yang lain janji buat makai ini dengan cara luar biasa kami.


Inget ini uang rakyat bukan uang Pak Presiden atau Pak Menteri Pendidikan. Uang nya harus balik lagi ke rakyat. Inget 3 janji wisudawan. Inget lagu Indonesia Raya. Inget mau majuin negara ini dengan cara kami yang sukses mulia. Doakan saya dan kami mampu mewujudkannya.



Biidznilllah.


Depok. 00:10 am...
26 Juni 2014