11/5/14

Postingan Path

Barusan liat Path. Temen baru aja ketemu Orang No. 2 di Indonesia. Rapihhhh banget..... 
Tuxedo, Dasi, Pokoknya kece.

tuxedo : pinterest.com

Terus iri ga?


Engga. Orang udah pernah ketemu langsung orang No. 1 nya. Yang periode Lama sama Baru. Teteup Pamer. Lol.


Terus saya jadi mikir.... Kalau esok saya mau ketemu Tuhan. Menghadap-Nya 5 kali sehari dalam sholat. Saya bakalan ngelakuin hal yang sama ga sih? Kayanya belum sampe tahap situ :-(((


Semoga aku dimampukan bisa sekece kalau ketemu Tuhan 5 kali sehari. Semoga juga dapetin yang kaya gitu juga #MaseeehAjaaa. For reminder all of us, Take your best self part when you meet, talk, and pray with Allah SWT. Exactly, harus rapi banget waktu mau ketemu Allah dibandingin pejabat.



#SemogaAllahMampukan #BerSemangatttt

Depok,
21:36
5/11/14

10/30/14

Agama Sebagai Hakim - Reblog & NOTED Kurniawan Gunadi

Diskusi-diskusi dengan teman selalu
menghasilkan banyak pemahaman baru yang menarik. Tidak untuk dibenar-benarkan dan menjadi prinsip yang kemudian juga saya anut. Namun, saya menjadi belajar bahwa perjalanan hidup manusia yang berbeda-beda telah membuat cara berpikir seseorang dengan yang lain juga berbeda. Untuk satu masalah yang sama pun, seseorang memiliki cara pandang yang berbeda. Dan kali ini akan sangat disayangkan jika tidak saya tulis.

Agama adalah hakim, hakim dalam hal apa? Di tengah usia 20+ dimana kita disajikan oleh berita akad nikah teman yang mirip jadwalshalat jumatan seminggu sekali. Dimana ketika
ada seseorang yang datang yang bahkan kita tidak tahu siapa dan bagaimana. Dimana ketika kita dibuat bertanya-tanya tentang seseorang yang hadir di pikiran. Maka jadikanlah agama sebagai hakim.
Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan beragama seseorang yang sebenar-benarnya saat ini. Hanya mendengar berita atau memperhatikan caranya berpakaian. Selebihnya kita tidak akan tahu jika kita tidak benar-benar mengenal kesehariannya. Karena agama bukanlah sekedar ibadah ritual; banyaknya hafalan, hitamnya jidat, panjangnya jenggot, lebarnya kerudung.

Tidak seeksplisit itu.

Agama itu ada di dalam hati, melebur hingga menjadi satu kesatuan dalam diri manusia.
Menjadi cara berpikir, cara berbicara, cara berperilaku, semunya termanifestasi menjadi perilaku keseharian.
Kita tidak akan benar-benar tahu kehidupanberagama seseorang dan berapa derajat keimanannya di mata Allah. Lalu bagaimana kita bisa menerima seseorang yang datang
tiba-tiba dalam hidup kita? Apalagi bila dia adalah orang yang sama sekali belum kita kenal baik kehidupannya?
Sementara Nabi mengatakan bahwa seseorang (menurutku ini berlaku tidak hanya untuk perempuan) dinikahi karena 4 hal; harta, keturunan, paras, dan agama. Dan dianjurkan memilih agamanya. Lalu saya bertanya, “Kalau kita bisa mendapatkan keempatnya, mengapa hanya salah satu atau mendapatkan 3 dari 4 kriteria
itu? Tidak salah dan tidak berdosa juga kan kita berharap dapat seseorang yang baik agamanya sekaligus cantik/tampan,
berketurunan baik, dan kaya?”

Teman saya tersenyum. Di sinilah jawaban itu muncul.

"Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik, seluruh pemahaman itu akan melebur menjadi dirinya. Ingat bahwa Nabi Muhammad akhlaknya adalah Al Quran kan?
Kita dan seseorang yang datang itu bukan Nabi, tapi kita bisa mencontohnya. Seseorang saat ini tidak lagi bisa dinilai dari luarannya saja. Lihatlah bagaimana cara dia berbicara, berperilaku, uji pemikiriannya dengan pertanyaan kritis dan masalah, uji kesabarannya dengan amarah. Kita boleh banget berdoa untuk memiliki pendamping yang memiliki paras yang baik, kaya, juga berketurunan, tidak ada yang salah. Yang perlu kita pegang adalah jadikan agama sebagai hakimnya."

Saya masih menyimak pembicaraan ini.
"Maksudnya agama sebagai hakim?"

"Kita tidak akan bisa menilai agama seseorang saja dan mengesampingkan yang lain. Hanya karena dia terlihat beragama; rajin shalat, jidat hitam, kerudung panjang, hafalan seabrek. Tapi bicaranya kasar, pemikirannya tertutup, bahkan perilakunya bertentangan dengan tampilan luarnya. Buat apa?"

"Carilah seseorang dengan karakter yang baik, baru kamu lihat agamanya. Kamu hanya perlu ridha dengan agamanya sebagaimana apa yang dikatakan Nabi Muhammad. Artinya kamu cukup ridha bila dia hanya baru shalat wajib dan dhuha, belum banyak hafalannya, belum
rajin puasa sunah, kerudungnya belum panjang atau bahkan mungkin belum mengenakan, dll. Karakter baik itu penting dan abadi berada dalam diri manusia. Karena karakter itu tidak dibentuk oleh pelajaran-pelajaran teori."

"Karena pemahaman agama itu benar-benar menjadi agama ketika terwujudkan menjadi seluruh cara hidup seseorang. Selebihnya dapat dipelajari perlahan. Al Quran saja diturunkan dalam jangka bertahun-tahun, pelan pelan tidak langsung sekaligus. Seseorang tidak akan menjadi sangat alim, sangat soleh atau solehah dalam hitungan pendek. Semua adalah proses dan itu proses bersama kalian nantinya. Untuk menjaga proses itu berjalan dengan baik, kamu membutuhkan seseorang dengan karakter yang baik"

Saya mencatatnya.

"Jadikanlah agama sebagai hakim, bila dia cukup baik dan cukup memenuhi kriteria mubah/sunah yang kamu buat (misal bisa masak, cantik/tampan, penyayang anak-anak,
dll) baru kamu lihat agamanya. Kalau kamu ridha, kamu sudah tahu jawabannya. Bila agamanya tidak baik, percuma kan karakter baik tapi kehidupan beragamanya kamu gak
ridha, putuskanlah. Karena hidupnya tidak akan berakhir di dunia saja, masih ada kehidupan setelahnya dan kamu membutuhkan itu."

Teman saya selesai menjawab. Ku kira dia lebih “ustadz” daripada ustadz di televisi yang hanya haha hihi tanpa esensi. Saya mencatatnya, membaca ulang kesimpulannya.

"Agama adalah hakim untuk menerima atau menolak seseorang dan hakim selalu memutuskan setelah melihat semua komponen yang lain terlebih dahulu"

Bandung, 28 Oktober 2014 |
©kurniawangunadi

Kurniawangunadi.tumblr.com

10/29/14

...

Saya tidak punya judul relevan apa yang tepat. Saya bersyukur ditengah orang berjalan cepat menuju stasiun terdekat. Menggapai Depok atau Bogor melalui langkah demi langkah terseok di Ibukota, tepatnya di sudut Stasiun Sudirman.

Sahutan panggilan kereta Bogor yang datang merajai kaki kaki besar pada eskalator dan menabrak saya dari belakang. Mereka kesal saya mulai berjalan melambat. Terhenti untuk sekedar mendengar keramaian dari kekosongan.  Memandang bulan yang hanya seperempat namun terlalu indah untuk dilewatkan. Melihat gelap malam berpadu oleh sinar pencakar langit di kejauhan. Merasai basahnya tangan oleh coklat dingin yang tergenggam. Melihat detail kerikil di bantalan rel. Merasa iba rumput kecil yang tumbuh namun batangnya telah lapuk dan rapuh.

Dan akhirnya.... saya pulang.

Mendengar jangkrik. Melihat Ibu di depan pintu siap menyambut. Langkahnya mulai makin melemah. Kemudian kami berbicara sampai pukul sebelas malam.

Tuhan. Terimakasih. Hidup punya sisi indah yang sering saya dan kakikakibesar pelanggan setia commuter line melewatannya karena kecepatan.

Dan akahirkata... Panjangkan umur Ibu Ya Allah... Terimakasih

Depok. 29/10/14