12/22/14

Sarkasme Dini Hari

Aku penulis. Kamu pembaca. Dimana bedanya?

Ini semacam sarkasme. Kalau aku jadi bulan. Kau jadi bintang. Padahal diantara keduanya. Lebih baik memilih jadi matahari. Punya sinar sendiri. Malangnya... Waktu telah batasan.  Waktu meradang menjadi pedang yang membelah bulan dan matahari.

Jadi kesimpulannya apa kau tetap setia menjadi pembaca? Ah ini sarkasme yang terlalu menurutmu-kan.

Apa kau setia menjadi penulis dini hariku. Penulis kisah kisahku. Kisahmu sebagian. Entah sampai kapan. Sampai waktu... tak lagi punya pedang yang tajam.

Atau mungkin sampai batas perbedaan. Dengan sendirinya menjajarkan dirinya. Keduanya perlu bicara agar sejajar bukan?

Berbeda tentu melelahkan. Hingga waktu pelan-pelan menghapus semua di jalanan. Kalimat. Kata. Kisah. Bertebaran. Dan akhirnya terlupakan dengan sendirinya.

Mimpiku masih sama tadi malam. Kau penulis, aku pembaca. Adakah yang terlupa sekarang?

Mungkin sebaiknya. Jadilah pendoa sekarang.

00:46
Depok

12/7/14

A Love Letter for Superb Mom

Akan terjadi kamu mengejar hal yang tak pasti. Dikelabui ilusi.

Tapi kamu harus segera sadar. Hingga hujan datang. Kabut turun. Lalu mematahkan di penghujung sana. Ada puncak yang harus kita tuju. Dan lalui untuk menuruninya bersama-sama kembali. Sudah takdirnya. Mau dikata apa. Jangan takut ada Allah dan doa mamah.

Thank you mom. No matter how childish we are. No matter how heart-ache of your child did to you. You always forgive and still do the best thing and pray for us. You are superb mom in the world. Thank you for every spirit, for every pray and everything for us. Thank you and I love you so much mom. I love you....

<3

With love,
Bella

12/1/14

Ibu yang Cerdas

Repost April-May 2014

Hari ini saya sengaja mampir ke website yang sudah lama tak saya kunjungi padahal beliau menulis setiap hari. Pasti udah bisa nebak ya. Kek Jamil Azzaini. Dalam tulisan beliau yang memuat judul four ways dan family value membuat saya tergagap-gagap.

Saya perempuan dan tentunya sudah menjadi takdir saya menjadi seorang ibu. Berbicara mengenai ibu yang terkait keluarga. Sebagian perempuan sudah lupa, mungkin terlalu memandang bahwa mahligai pernikahan adalah segala hal bahagia yang berhubungan dengan dongeng. Bermimpi mempunyai anak kecil yang mengasikan dan lain-lain. Ia lupa dan lalai kepada kepahitan, melihat data statistik bahwa perceraian di Indonesia meningkat tajam. Lupa bahwa kesiapan mental dan tanggung jawab yang dipikulnya sebagai seorang istri dan ibu bukan lagi dongeng tapi realitas. Bahkan disney sang pencetak dongeng perempuan seantero dunia pun perlahan mulai sudah sadar dongengnya dirubah tak lagi seperti cinderella.


It's a fairytale, ur daughter should be well educated too :) source: tumblr.com

Balik lagi... mengupas dari sisi Kek Jamil, bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Saya melihat Ibu saya: ibu rumah tangga tapi berharap saya ke depan tetap bekerja. Alasan ibu menyuruh saya tetap bekerja karena ibu bilang kita tidak tahu masa depan seperti apa sewaktu-waktu. Jangan berharap terus terhadap laki-laki. Beliau juga sadar bahwa pekerjaan saya sekarang tidak akan bisa menjadi modal saya menopang beban sebagai ibu. Karena bertabrakan fitrahnya. Beliau berharap saya melanjutkan kuliah. Kelak menjadi dosen, guru atau PNS saja. Saya hanya bisa mengangguk perlahan.

Menjadi wanita yang bekerja dan punya tendensius tinggi dalam hal karier adalah hal lumrah di zaman sekarang. Nilai-nilai feminimisme mengakar tinggi baik suburban maupun ranah ibukota. Menurut saya, sejak pemberlakuan revolusi industri, wanita mengharapkan kesetaraan dan keadilan. Zaman sekarang apalagi semakin menjadi, yang saya lihat di kereta bahkan disinisi oleh penumpang laki-laki. Kami kesal mungkin. Hidup di era sekarang tak bisa lagi mengandalkan hanya laki-laki yang mencari nafkah. Perempuan yang seharusnya di rumah turut andil juga. Begitulah realitas yang berbicara.

Sejarah mengungkapkan era emansipasi wanita Indonesia oleh Ibu Kartini. Tapi, apakah tujuan mulia Ibu Kartini tersebut untuk mencetak kesetaraan gender dan karier cemerlang? Tentu bukan. Sayangnya ke-Kartinian bangsa ini sudah terganti dengan tiga syarat majalah Cosmopolitan: Fear, Fearless, Female. Saya tak menyangkal. Begitupun wanita di luar sana. Pak Jamil sekali lagi mengingatkan empat poin: Surga, neraka, miskin, kaya. Tentu yang kita mau adalah Kaya lantas masuk surga. Bukankah begitu? Lalu kembali ke titik awal. Sebagian perempuan dengan ke-Kartinian zaman millenial yang telah berubah. Menginginkan karier cemerlang dan rumah tangga bahagia. Tidak, bukan tidak mungkin hal tersebut bisa dilakukan. Tapi hanya kemungkinan kecil. Fitrah menjadi perempuan adalah menjadi seorang ibu.

source: tumblr.com
Bicara mengenai realita. Saya menghadapi realita itu sendiri. Contohnya, saya pengajar privat waktu itu. Ibunya seorang PNS juga di Jakarta. Pulang pukul 8 malam sampai di Depok. Meskipun begitu anak beliau susah sekali diatur. Seperti kehilangan sosok Ibu... dan ayahnya juga penting (tapi kita masalah ini perlu tepis karena point utama terletak bukan pada pembahasan ini)

Saya sadar betul. Apapun yang saya pilih nanti akan sarat dengan resiko. Seperti opportunity cost dalam akuntansi. Saya takut di suatu masa akan tumbuh kelas menengah yang lebih besar dan membayar orang tua profesional untuk anak-anaknya kelak. Saya takut sekali itu terjadi. Akan ada disfungsi orangtua yang asal lempar pada orangtua profesional tersebut. Indonesia belum sampai taap seperti itu. Masih mengandalkan sang nany atau asisten rumah tangga saja.

Bagaimana dengan gelar saya. Kuliah saya akankan menjadi percuma. Suara sumbang perempuan yang menyayangkan gelarnya tersebut tentu banyak bermunculan. Meskipun begitu nama gelar dibelakang saya sangat penting. Ibu yang cerdas bukankah melahirkan anak-anak yang cerdas pula? Tiga family value lah yang diungkapkan oleh Pak Jamil: ACI: Agama, Costumer, dan Integritas.

Menurut saya tak selamanya menjadi ibu adalah pembantu. Kemarin saat sekamar dengan oknum K, saya terkesima dengan jawaban diplomatis suaminya. Bahwa yang mengerjakan urusan rumah biarlah dia saja. Kalau untuk mencari pembantu tentu mudah. Tak sama perkaranya untuk mencari istri sebagai pendampingnya. Jika ada seorang perempuan yang masih memandang rendah bahwa menjadi ibu adalah pembantu rasanya yang harus disalahkan adalah budaya kita juga. Kebanyakan perempuan disamakan posisinya. Mungkin itulah yang membuat kebanyakan perempuan berpikir dua kali menjadi seorang ibu secara penuh waktu di rumah. Membaca blog dari Mariana, ia juga menjelaskan bagaimana suaminya yang "orang luar" alias bule terbiasa melakukan segalanya sendiri. Laki-laki disana dianggap mampu melakukannya sendiri. Sayangnya nilai ketimuran yang diadaptasi di Indonesia khususnya. Membuat banyak laki-laki manja (bukan termasuk suami oknum K atas dasar pengecualian).

Selain itu, saya juga teramat kagum dengan budaya Jepang yang menyebut wanita Kyoiku Mama (Ibu Pendidik), kebudayaan Jepang sangat menganggap bahwa Ibu pendidik lebih keren, lebih dinilai sebagai 'penguasa rumah'. Karier menjadi hilang sama sekali setelah menikah dan melahirkan anak pertama. Wanita Jepang lebih bangga dengan gelar sebagai Kyoiku Mama. Meski bergelar S1/S2. Bukankah mempunyai Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan berakhlak mulia pula. Yang patut dicontoh adalah Ibu saya sendiri. Ibu rela meninggalkan kariernya sebagai seorang pengajar setelah melahirkan saya anak pertama. Meski kelam dilanda krisis moneter. Setidaknya masa kecil saya bahagia. Saya tidak kehilangan sosok ibu. Saya merasa lengkap. Ibu ada saat mengambil rapot atau ada saat mengantar saya sekolah dahulu. Mengajarkan saya kemandirian untuk datang ke sekolah sendiri. Meski ada kenyataan pahit yang perlu disadari jika perceraian, kematian Bapak akan menjadi kekhawatiran di masa depan.

Toh, ibu saya hidup di zaman berbeda kultural. Ini bukankah zaman millenial dan smartphone sebagai penghubung semua orang. Sayangnya tak se-smart penggunanya. Saya lebih banyak menemukan anak-anak yang diasuh oleh pembantunya. Pendidikannya terkadang hanya setara dengan SD. Lalu percayakah kita memegang nasib anak-anak kita pada mereka. Ibu pernah berujar pada tetangga, "Galak banget sama anak Teh, sesar ya lahirnya." Sembari tertawa. Segitunya rasa sakit saat melahirkan menghilangkan kesan cinta pada anak-anaknya sendiri. Itu baru galak pada anak apalagi 'menyerahkan anak" pada orang lain.

Mungkin saya berpandangan terlalu jauh. Terlalu muluk. Selain ketidak pastian keuangan di masa depan. Tetapi, bukankah zaman ibu saa dan saya berbeda. Zaman telah berganti dan menjamurnya financial planner bagi ibu juga menjadi alternatif di masa mendatang. Mengelola uang dengan online shop alias mompreneur, unit link investasi asuransi, deposito, reksa dana. Semua bisa menjadi alternatif bagi seorang ibu yang  cerdas bukan?

<3 source: tumblr.com

Ibu yang pendidik yang cerdas menghasilkan anak-anak yang cerdas pula.




Tulisan panjang. April-May 2014
Depok. 23:35 pm Finished 10 May 2014