10/29/14

...

Saya tidak punya judul relevan apa yang tepat. Saya bersyukur ditengah orang berjalan cepat menuju stasiun terdekat. Menggapai Depok atau Bogor melalui langkah demi langkah terseok di Ibukota, tepatnya di sudut Stasiun Sudirman.

Sahutan panggilan kereta Bogor yang datang merajai kaki kaki besar pada eskalator dan menabrak saya dari belakang. Mereka kesal saya mulai berjalan melambat. Terhenti untuk sekedar mendengar keramaian dari kekosongan.  Memandang bulan yang hanya seperempat namun terlalu indah untuk dilewatkan. Melihat gelap malam berpadu oleh sinar pencakar langit di kejauhan. Merasai basahnya tangan oleh coklat dingin yang tergenggam. Melihat detail kerikil di bantalan rel. Merasa iba rumput kecil yang tumbuh namun batangnya telah lapuk dan rapuh.

Dan akhirnya.... saya pulang.

Mendengar jangkrik. Melihat Ibu di depan pintu siap menyambut. Langkahnya mulai makin melemah. Kemudian kami berbicara sampai pukul sebelas malam.

Tuhan. Terimakasih. Hidup punya sisi indah yang sering saya dan kakikakibesar pelanggan setia commuter line melewatannya karena kecepatan.

Dan akahirkata... Panjangkan umur Ibu Ya Allah... Terimakasih

Depok. 29/10/14

10/27/14

Ibu Susi Jadi Menteri

Kemarin pengumuman Kabinet Trisakti diumumkan oleh presiden baru Jokowi Dodo. Dengan gaya khas dan pelengkap manis lelucon segarnya dalam mengumumkan semua kandidat menterinya. Kalimat Biografi singkat hadir melalui pembeberan beliau di depan puluhan cahaya kamera tv nasional dan lokal pukul lima petang. Satu persatu nama terpanggil Sang Presiden, dengan cekatan Sang Menteri bergegas berlari. Berharap  kerja cepat terlaksana dengan konsep berlari itu. Kemeja putih seratus lima puluh ribu rupiah buatan Penjahit Langganan di Solo tergulung setengah ditangannya. Putih hitam yang menjadi dua warna baru penghias di Istana Merdeka, dengan komen nitizen remaja ababil via twitter land mengomentari mereka persis anak magang yang belum berseragam.

Kadang saya menggumam dengan lucu. Apalagi sekaliber saya. Pemudi yang kerjanya hanya mengkritik pemerintah dengan pedas. Tapi apa bakti saya pada negeri ini? Lucu memang bagai anomali  Status teman saya sore ini mulai mengomentari menteri baru bernama Ibu Susi. Sekali lagi saya tertawa renyah, setelah jurnal jurnal akuntansi mulai hilang terkunyah di kepala. Atau mungkin saya yang terlalu lelah. Status teman saya merujuk pada gaya dan akhlak nyeleneh Ibu Menteri bernama Susi tersebut. Mulailah ia aktif membeberkan bahwa menteri tak pantas seorang perokok berat dan (mungkin katanya) tatoan.

Lucu buat saya. Mungkin tidak untuk teman saya (kakak kelas) tepatnya. Saya memang tidak terlahir untuk ter-religius atau berakhlak mulia. Kemarin saya baru saja tertampar dengan pengalaman teman yang terlalu religius hanya dengan Tuhannya bukan pada sesama. Banyak yang mungkin terlihat bobrok hubungannya dengan manusia. Mementingkan ketuhanan tapi lupa keberagaman dan penghargaan sesama. Saya pun bisa saja seperti demikian.

Akan menjadi catatan saya tersendiri bagaimana seharusnya berhubungan dengan sesama. Banyak yang tidak bisa mentolerir buruknya perilaku pemimpin. Kadung kesal, saya bertanya-tanya. Pantaskah kita mengganti peran Ibu Susi? Pantaskah?

Ibu Susi dengan kegigihannya berhasil membantu perekonomian nelayan menjadi lebih baik. Wanita pertama dengan pesawat Cessna berhasil menembus Meulabouh pasca Tsunami di Aceh. Memberikan lapangan pekerjaan. Lalu kita sudah berbuat seperti apa? Masih meminta minta pada orangtua. Masih meminta minta dengan bangga pada perusahaan asing aka multinasional.
Kiranya, perbuatan 'kecil' apa yang sudah kita lakukan untuk negeri ini? Berkoar-koar layaknya demonstran Senayan tapi tindakan apa yang sudah kita lakukan?

Saya tahu saya subjektif. Setidaknya saya masih sadar. Bahwa Ibu Susi punya sisi yang lebih baik untuk dihujat. Yakni apa program kerjanya? Bukan masalah pada titik dia perokok berat atau Ibu Susi seorang tatoan. Gaya ini persis headline infotainment murahan. Kalau Ibu Susi punya program yang lebih baik kenapa tidak. Nyatanya titik permasalahan adalah ide apa yang akan ia sumbangkan sebagai menteri? Program kerja seperti apa? Jika kita anomalikan semisal seorang muslim yang mendapat islamophobia di US bila terpilih menjadi pemimpin tentu orang akan melontarkan hal yang senada. 

"Kok Jenggotan. Emang bisa mimpin orang US? Kok pakai baju  celananya ngatung lagi?"

Semua manusia sama. Punya penilaian tersendiri atas apa yang ia yakini pantas hadir di masyakarakat.

Seandainya kedua belah pihak mau mengerti secara objektif. Tentu pikiran akan konflik dari kebiasan buruk (yang dinilai buruk bagi suatu kaum) dihilangkan stigma tersebut. Ini persis seperti curhatan hati saya. Pun begitu curhatan hati Jokowi Dodo:

Wong desa emang bisa jadi presiden?

Atau yang menanyakan hal lain semisal, Ah lulusan SMP emang bisa jadi menteri? 

Banyak hal subjektif yang  bisa kita tanyakan. Yang akhirnya kalimat yang terketik pada status kita mirip berita infotainment murahan.


Titik masalah yang perlu diingat adalah program kerja. Dan saya pun menghujat Ibu Susi atas wawancaranya kemarin. Mengenai program kerja. Dengan santai, wanita yang berpengalaman 30 tahun itu menjawab, "Belum ada ide."


Lantas, subjektif kah kita? Pantaskah menghujat bak infotainment murahan.




Depok. 
23:27 pm 27/10/2014

10/19/14

Wise Words (might) from God

God won't ask what kind of car you drove, but will ask how many people you drove who didn't have transportation.

God won't ask the square footage of your
house, but will ask how many people you
welcomed into your home.

God won't ask about the fancy clothes you had in your closet, but will ask how many of those clothes helped the needy.

God won't ask about your social status, but will ask what kind of class you displayed.

God won't ask how many material possessions you had, but will ask if they dictated your life.

God won't ask what your highest salary was, but will ask if you compromised your character to obtain that salary.

God won't ask how much overtime you
worked, but will ask if you worked overtime for your family and loved ones.

God won't ask how many promotions you
received, but will ask how you promoted
others.

God won't ask what your job title was, but will ask if you reformed your job to the best of your ability.

God won't ask what you did to help yourself, but will ask what you did to help others.

God won't ask how many friends you had, but will ask how many people to whom you were a true friend.

God won't ask what you did to protect your rights, but will ask what you did to protect the rights of others.

God won't ask in what neighborhood you
lived, but will ask how you treated your
neighbors.

God won't ask about the color of your skin, but will ask about the content of your character.

God won't ask how many times your deeds matched your words, but will ask how many times they didn't.

(Source Unknown)

-For all of you who already forgotten this... ^_^ Sambil nonton nagita rafiah :* plus besok Nunggu kelancaran mustahil gitu di sudirman -** *leyeheyehditaksi*
20:58 Depok 19/10/14