Saturday, July 4, 2015

Menjadi Baik (2)

Kemarin adik saya, Putri baru saja lulus dari UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional). Bangku sekolah dasar telah ia tamatkan sudah, kini gilirannya belajar menuju jenjang yang lebih tinggi. SMP. Alhamdulillah dapet SMP yang sama. SMPN 4 Depok. Duh... jadi inget nyoret nyoret diangkot Bella Pasmer 402. Waktu dinding facebook belum ada wkwkwk.

Dari dulu, pelajaran favorit saya adalah matematika. Dulu saya terbiasa dengan nilai matematika saya 10. Ujian sekolah waktu sd nilainya meski hanya 8. Karena ingatnya cuma masih main main. Menjelang SMP ujian nasional matematika saya bisa 10. Aneh memang. Suka matematika tapi masuknya akuntansi. Ceritanya panjang hehehe. Berbeda dengan adik saya Putri, dengan panggilan Uti. Dia lebih suka menggambar dibandingkan matematika. Pernah saya mencoba menggambar hiu untuknya. Dia bilang lebih mirip ikan asin. Saya menyerah karena saya tidak bisa menggambar. Tapi Putri hebat sekali.

Mengajarkan Putri itu bikin gregetan. Sudah kelas 6 SD pecahan ini itu masih sulit dimengerti olehnya. Saya ga ngerti kenapa dia segitunya sama matematika. Teman saya Windy juga ada sih yang phobia sama hitungan. Hahahaha. Jadi ya saya dimaklumi aja kalau matematikanya ga bagus. Kata mamah, dulu Putri pernah jatuh saat bayi dan kepalanya terbentur.. Mamah bersyukur Putri ga kenapa kenapa (kelainan dan sebagainya) tapi memang matemtikanya lemah... atau entah dia yang masih main main saja...

Waktu hasil UN Uti keluar, Ibu saya, marah besar, lapor ke uwak Putri pun dimarahi juga. Bapak juga ikut-ikutan. Dinasehatilah Uti dengan gaya macam macam. Pokoknya nanti teteh kursusin aja buat bisa jago photoshop. Meski cita cita Putri pramugari sih....

Pendidikan di negeri ini memang belum sepenuhnya berjalan baik. Ijazah matematika saya yang 10 sekarang dijadikan apa coba. hahahaha sedih.

Kalau misalnya pendidikan impian yang saya mau itu kaya di Finlandia. Dari bayi anak anak sudah kasih box khusus. Isinya pakaian dan perlatan bayi yang bisa dijadikan tempat tidur bayi. Di Finlandia, mereka percaya bahwa smua anak adalah anugrah. Kalau di sini, pelajarannya makin banyak. Anak SD sekarang udah belajar apa itu KTP, apa itu Akte, apa itu KK. Kalau jaman saya PPKN sdnya masih tentang cara berbudi baik. Sayangnya di SMP Berubah jadi tata negara. Banyak lulusan yang pintar tapi tak berbudi. Kan sayang. Buat apa.

Balik lagi... Di Finlandia. Kurikulum dibuat dengan cara tanpa PR dan tanpa tugas. Anak pun dibebaskan berkreasi. Meja meja dibuat bukan berkotak kotak yang tersusun rapi. Tapi disediakan material khusus agar bisa dipindah pindah saat diskusi kelompok. Biasanya satu kelas itu bisa belajar macam macam. Jadi sambil bermain, sambil belajr menghitung, menulis, mengambil keputusan. Daya nalar anak dan motoriknya seimbang. Ga cuma sebatas teori dan hafalan. Tapi gimana benar benar agar sang anak paham.

Guru pun menjadi pekerjaan idaman no. 1 di Finlandia. Yang mengalahkan posisi dokter. Selain tunjangan dan gaji guru yang lumayan.P roses rekruitmen guru dari 3000 orang hanya akan dipilih 100 orang. Miriplah sistem rekruitmennya dengan Indonesia Mengajar yang buat essay, testjadi gurudan lain sebagainya. Guru juga harus punya sertifikasi khusus yakni setara S1 ditambah dengan 1 tahun program ahli kependikan mirip dengan PPAK akuntansi satu tahun gitu ya.

Padahal dulunya Finalandia adalah negara miskin. Dimana harus juga menanggung hutang akibat kekalahan perang dunia ke 2. Nah setelah dilakukannya transformasi pendidikan. Finlandia jauh berubahhhhhhhh. Dari negara miskin. Sekarang GDP nya bisa menghasilkan kaum kaum ekonomi kelas menengah. Hebat kan. Sekarang meski score PSA di sana turun. mereka juga turut mengahdapi gimana sitem pengajaran teknologi yang asik.

Tapi gimanapun. Ibu jugakan yang mewanti wanti bahwa sekolah tinggi buat apaan kalau ga berbudi. Nah kan, Pendidikan ga semata mata nilai tinggi. But... kebaikan sikap kita di masa depan. Sejatinya begitu.

Duh.... Semoga aja bisa buat sekolah yang gurunya dan kurikulumnya seasik ini... :) Aamiiin

Terakhir.... Ini kutipan Pak Rhenald Kasali

”Seberapa baik” itu berbeda dengan seberapa pintarmenurut ukuran-ukuran yang ada di dalam rapor atau ijazah. Ia tak tecermin dalam nilai matematika, bahasa,
sejarah, atau IPA kalau pendidikan tidak kita ubah. Ia juga tak didapat dengan memberi les Kumon kepada anak-anak secara intensif atau memenangi olimpiade-olimpiade sains.

Pendidikan itu bukan memisah-misahkan kognisi dengan non-kognisi sehingga menambah mata ajaran atau jumlah guru. Seharusnya, sambil berhitung, anak-anak mengingat aturan permainan. Sambil membuat work sheet keuangan, seorang calon akuntan diajak melihat pergulatan rakyat kecil mengais sampah. Dan sambil mendalami dalil-dalil hukum, seorang calon sarjana diajak berdialog dengan keluarga narapidana (apalagi salah sasaran) dan hartanya habis untuk membayar pengacara.

Di atas hukum ada keadilan, di atas kertas ada kebenaran, dan di atas ilmu pengetahuan ada kebijaksanaan. Para ilmuwan harus mulai terbiasa mengajarkan cara-cara berpikir di atas dalil-dalil kognisi untuk mencetak politisi-politisi berbudi luhur dan anak harimau yang tak menerkam ibunya sendiri di kala lapar.

Depok.
UAS. 4/7/2015

Gemuruh

Setelah menjelajahi Jakarta hari ini saya tengah sadar setelah banyak kesyukuran, kesyukuran tentang hidup, apa artinya hidup, kenapa dan a...