Friday, April 14, 2017

Emotional Bank Account pada Anak

Kebetulan catetan kemarin seminar parenting yang sampe dua itu ketinggalan di kosan 😂😂😂😂😂

Tapi berhubung aku kepengen banget nulis *ga ada kerjaan* *ga punya bahan* jadinya yaudah ini ada point penting yang sekarang trendnya ga kaya gini. Alias kesalahan umum yang udah jadi pembenaran publik.

Kan di Alquran dengan gamblang di jelasin kalau anak adalah amanah sekaligus ujian. Waktu itu Pak Irwan pengisi materi seminar kemarin jelasin yang sekarang nih sedang jadi persepsi yang salah adalah orangtua yang bombardir seperti jual tanah, rumah, sawah, harta lainnya ketika anak masuk ke perguruan tinggi.

Ternyata dengan ilmu cetek yang aku punya dengan cita cita anaknya mau dimasukin ke sekolah alam perlahan "agak benar" hahah sedih kan punya ilmu cetek berdasarkan perkiraan aja. Semangattttt belajarnya Bellaaaaa.

Jadi sebenarnya orang tua perlu tahu bahwa anak di masa umur 0 sampai 15 tahun sedang menabung akun bank emosional seorang anak. Nah pas masuk perguruan tinggi salah banget deh anaknya baru di jor jorin semua costnya disitu.

Aku jadi inget cerita tentang nabi Yusuf yang ketika itu menceritakan mimpinya kepada ayahnya Yakub. Artinya sejak dini Alquran juga mengatakan bahwa saat kecilah anak itu menabung emosional account dari orangtuanya. Tentang rasa kepercayaan (trust) Bagaimana seorang Ismail yang begitu mempercayakan Ayahnya Ibrahim untuk menyembelihnya 💕💕 Huaaaaa kurang apa coba ilmunya yang ada beberapa tersimpan baik di Alquran. I am blessed.

Okay back to the topic.. Jadi hahahahah. Cita cita aku pun berubah. (Ya tergantung suami juga lah yah doi mau apa engga kan musti sepakat ga bisa memaksakan kehendak) Makanya pernah sedih kalau pemikiran yah semisal orang lain yang menganggap yaudah anaknya di masukin ke negeri ajah. Yaudah anaknya di masukin sekolah biasa ajah...

Ahhhhhh sedih....

If I had much money. I will invest everything for you nak.. Ga peduli Erha, kosmetik, Baju muslimah kekinian, dll. Tapi sebagai Ibu nanti, bukan melihat dari biaya tetapi gimana sekolah itu memperlakukan anak anak aku kelak. Percuma aja misalnya ada sekolah mahal tapi memaksa anak pintar dan disamakan dalam waktu singkat. Kalau anak aku misalnya belum ngerti matematika. Disuruh harus bisa calistung dan ini itu. Disuruh bisa bahasa asing ini itu. Ya dengan ilmu yang nihil sekarang dan akan terus belajar. Aku percaya kok semua anak itu punya "minat" ya bukan "bakat" masing masing.. Dimana anak akan tumbuh sesuai waktu dan tahapnya. Kadang suka sedih aja ngeliat kurikulum sekarang. Terlalu berat. Kadang suka sedih juga ngeliat anak yang masuk SD dengan syarat harus bisa calistung. Kadang sedih yah ngeliat anak yang dipaksa. Ini kan zaman globalisasi Bell. Ya musti pinter english. If anak anak aku memang diharuskan untuk belajar bahasa asing. Tapi inget lagi Bahasa adalah bagian dari budaya. I cannot accept my toddler one day say to her Mom, "you" karena dalam bahasa Inggris semuanya setara. Even english is good for children's future. Tapi ada waktunya anak itu belajar kapan. Anak itu bisa kapan... Sesuai dengan tahap tahapnya. Kalau pun anak itu kecepatan karena memang bakatnya di situ ya Alhamdulillah.


Kalau engga. Aku mau ngenalin ke anak anaku tentang resiko yang dia pilih. Misal IPK nya dibawah tiga. Ya percuma kuliahnya karena yang pertama di liat perusahaan pasti itu. Jadi.. sebisa mungkin kalau anak aku bukan anak juara... Dia tahu resiko dan standar yang akan dia ambil untuk hidupnya nanti. Menjelaskan bukan menakuti nakuti. Menjelaskan resiko kalau dia ga berjuang untuk belajar bahasa asing nanti ketinggalan sama delapan milyar orang di bumi. Mengajarkan setiap anak boleh saja malas. Tapi ingat mimpinya harus besar dan harus terus berjuang. Ga perlu jadi juara. IPK tinggi. Sebagai orangtua yang terpenting adalah kebermanfaatan anaknya dari sebuah ilmu. Apakah nanti menjadi sombong dll. Apakah ilmunya mengantarkannya pada ridho orangtua mimpinya juga surga. Semangat selalu dan terus berjuang!

Jadi melebar kemana mana ya. Intinya adalah masa masa umur 0 sampai 15 tahun aadalah investasi terbaik untuk anak anak kita. Pernah suatu ketika seorang Ibu berhenti mencuci piring demi mendengarkan anaknya bercerita karena momennya ga ada lagi ga bisa balik lagi. Semoga Ayah ayah ga primitif nanya tentang pr nya udah belum. Tapi lebih menekankan ke emosi seorang anak. Tanya tentang apakah anak bahagia. Bagaimana teman temannya. Ayahnya bisa ga bercerita tentang Umar bin khatab. Perang Khandaq pada anak laki lakinya atau perempuannya.

Well.. yang udah belajar IPA pasti well known banget perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan. Nah disini yang aku ceritain panjang lebar adalah peran yang lebih penting mengenai perkembangan seorang anak selain pertumbuhannya. Begitu!

Selamat belajaaaar terosss! Mangatseuhhh
Sekian..