Monday, April 24, 2017

Mengurus Anak vs Membangun Anak

sumbenya dari tumblr ka yulialatifah.tumblr.com ya :))

Sebagai pasangan muda yang penuh gelora, saya dan istri saya, Andin, tidak mempunyai ilmu yang cukup tentang parenting sebelum menikah. Kami memang punya impian-impian yang spesifik tentang cara-cara berumah tangga, tapi kami tidak terlalu detail membahas bagaimana cara kami mendidik dan membesarkan anak kami kelak. Tidak ada sekolah spesifik menjadi orangtua. Tidak di bangku SD, SMP, SMA, apalagi kuliah. Kita harus rajin mencari sendiri ilmunya jika ingin menjadi orangtua. Maka di sinilah awal mula masalah itu muncul.

Kami berdua, terjebak ke dalam terminologi yang kami tidak sadar telah melakukan kesalahan dalam mendidik dan membesarkan anak kami, Afiqah Humayra Umarat. Kami tersesat dengan memakai terminologi ‘mengurus’ anak. Maksudnya?

Ya, sejak Afiqah bayi, kami benar-benar mengurus Afiqah dengan sebenar-benar diurus. Artinya, kami melakukan segala hal, lalu Afiqah tinggal terima beres. Obsesi kami sebagai orangtua telah terlarut dan hanyut bersama penerapan ‘mengurus’ anak. Kami tidak memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada Afiqah untuk mencoba mengurus dirinya sendiri. Tidak sama sekali. Ketika ia menangis, kami langsung ‘gelonggongin’ dengan ASI, agar ia diam. Sehingga, apapun yang terjadi ketika dia nangis, langsung ‘gelonggogan’ ASI dipakai sebagai jurus. Padahal, belum tentu ia menangis karena lapar atau haus. Kami tidak mengajak komunikasi Afiqah. Ia kami remehkan. Ia kami anggap masih anak kecil yang belum tahu apa-apa. Hanya kami yang tahu apa keinginannya, dengan keSOTOY-an (sok tahunya) kami.

Karena bahasa bayi itu masih lewat menangis, itu masih tidak masalah. Menjadi masalah ketika Afiqah mulai agak besar. Setelah hampir usia 2 tahun, dia kerap menangis. Apa-apa menangis. Selalu menangis. Sehingga, ia ketergantungan terhadap bantuan dari orangtuanya. Yang ada di kepalanya, di neuron otaknya dan di myelin yang terbentuk adalah pengalaman bahwa ia selalu dilayani oleh orangtuanya pada kondisi apapun, kapanpun.

Baju kita pakaikan. Sepatu kita pasangkan. Kaos kaki kita pasangkan. Rambut, kita sisirkan. Tangan kotor, kita cucikan. Mandi, kita mandikan. Sikat gigi, kita sikatkan. Haus, langsung ASI atau diambilkan air minum. Tak lupa, seperti lagu Mbah Surip yang fenomenal itu, Afiqah selalu “tak gendong kemana-mana….” Karena kami tidak memberikan kesempatan ia belajar jalan sendiri. Kami kasihan. Pikiran kami masih katro tingkat tinggi. Kami pikir waktu itu begitulah seharusnya orangtua melayani anaknya sepenuhnya. Saat itu kami merasa kami sudah jadi HERO buat anak kami. Orangtua sibuk ‘mengurus’ anak, orangtua aktif, anak pasif, terima beres, terima jadi, lalu tinggal nangis saja jika ada apa-apa.

Sampai suatu saat kami tersiksa sendiri dengan rutinitas yang kami bangun sendiri. Semua pelayanan yang kami sediakan untuk Afiqah ternyata membuat kami tidak bisa bergerak kemana-mana. Istri saya terutama. Suatu malam saat saya pulang kerja, memeluk saya. Saya pikir dalam hati, “Ada masalah pelik apa ini?” Ternyata selidik punya selidik istri saya merasa ada yang salah dengan pola asuh kita terhadap anak. “Anaknya gelendotan terus, gak bisa ditinggal. Minta gendong terus. Nangis-nangis terus. Aku gak bisa ngapa-ngapain. Gak bisa masak, gak bisa beres-beres rumah, gak punya me time.” Saat itu saya masih menjawab dengan bercanda. “Gak apa-apa kok manda gak masak, gak apa-apa kok rumahnya berantakan. AKU (TETAP) PADAMU KOK YANK…,” jawabku sambil berseloroh. Tapi ditanggapi dingin oleh Andin.

Sejak saat itu, kami berdua bertekad harus mencaritahu ilmu yang tepat mengenai pola pengasuhan terhadap anak kami Afiqah. Kami belajar berbagai macam ilmu parenting. Mulai dari ikut pelatihan, seminar, baca buku, nonton di youtube, mencari tahu bagaimana sebenarnya dan seharusnya mendidik anak usia dini. Kami mencari bentuk ideal yang seharusnya, agar masalah saya dan istri saya bisa tertangani.

Setelah belajar sana-sini, dan kami memasukkan anak kami ke Sekolah Batutis Al-Ilmi di Bekasi, semuanya berubah. Terminologi ‘mengurus’ anak, segera kami ubah menjadi ‘membangun’ anak. Nah, bagaimana pula itu ‘membangun’ anak? Apa bedanya dengan ‘mengurus’ anak?

‘Membangun’ anak benar-benar berbeda dengan ‘mengurus’ anak. ‘Membangun’ anak prinsip dasarnya adalah orangtua aktif, tapi dia mengajak serta anaknya sebagai partner dalam berkegiatan. Anak diberikan peran. Anak diberikan kesempatan. Anak diberikan kepercayaan untuk bisa mengerjakan apa yang sudah bisa atau mampu ia lakukan sendiri. Orangtua tidak boleh melayani anak sepenuhnya. Sekilas terdengar ‘sadis’ kalau pakai ‘kacamata paradigma’ kami terdahulu. Tapi, itu semua dilakukan agar anak kami punya pengalaman yang terekam di neuron otak dan myelin ototnya bahwa ia adalah anak yang mandiri, mampu mengerjakan pekerjaannya sendiri.

Sejak saat itu, Afiqah kami encourage bertahap untuk bisa memasang baju dan celananya sendiri, memasang kaos kakinya sendiri, memasang sepatunya sendiri, menyisir rambutnya sendiri, mencuci tangannya sendiri, mandi sendiri, tidak perlu digendong kemana-mana lagi, dan bahkan bisa buang air kecil dan air besar sendiri di kamar mandi. Ketika ada masalah, ia bisa bicara apa inti masalahnya, dan kita selaku orangtua bisa mencari solusi secepatnya, dan tantrum Afiqah bisa segera reda dalam hitungan tak sampai 10 menit.

Pada terminologi ‘membangun’ anak, orangtua tidak sibuk dan tidak direpotkan oleh anak, orangtua aktif tapi jadi partner terbaik anak, anak aktif juga, ia tidak terima beres terhadap segala sesuatu, otot dan otaknya terlatih melakukan segala sesuatu sendiri, atas jerih payahnya sendiri. Jika konsep ini diterapkan sejak kecil, ini akan jadi modal yang sangat berharga bagi hidupnya kelak di masa depan. Kelak, kami berharap ketika ia mendapatkan masalah, ia mampu menyelesaikan sendiri terlebih dahulu, tidak buru-buru secara manja minta bantuan, call a friend, call mommy and daddy, bisa langsung frustasi, atau lebih parah lagi langsung menyerah.

Apa dampak yang kami rasakan setelah kami switch dari paradigma ‘mengurus’ anak menjadi ‘membangun’ anak? Kami sekarang lebih bahagia. Kami tidak repot. Anak kami mandiri, dan orangtuanya senang melihat anak mandiri. Anak menjadi partner kami dalam berbagai aktifitas. Anak tidak lagi jadi penghambat aktifitas, tapi justru jadi partner yang seru diajak kerjasama. Komunikasi kami lancar. Intensitas tantrumnya menurun drastis, karena ia bisa bicara. Kami selalu beri pijakan informasi bahwa bicara itu menyelesaikan masalah. Maka, ketika kita arahkan ia bisa mengkomunikasikan apa keinginannya, tantrumnya cepat berlalu. Palign minimal, ia bisa menunjuk pakai jari apa yang jadi solusi dari permasalahan, itu jauh sangat membantu daripada sekadar nangis-nangis tanpa solusi. Sehingga, orangtuanya tidak ikutan tantrum juga manakala anaknya tantrum. Kalau dulu, kami kerap terbawa emosi dan ‘tantrum’ juga ketika anak kami tantrum. Sudah capek-capek pulang kerja, dihadapkan pada anak yang nangis-nangis tanpa alasan yang jelas dan tidak bisa dibuat diam. Itu benar-benar bikin frustasi. Tapi itu dulu. Kami udah ucapkan bye-bye pada fase kelam itu. Alhamdulillah.

Adlil Umarat
Childhood Optimizer Trainer

Gemuruh

Setelah menjelajahi Jakarta hari ini saya tengah sadar setelah banyak kesyukuran, kesyukuran tentang hidup, apa artinya hidup, kenapa dan a...