Monday, May 22, 2017

........

Perempuan ga akan pernah meminta laki lakinya untuk di-nomor-satukan. Hanya meminta dijadikan satu satunya.

Kalau aku mungkin tipe yang idealis. Sampai sekarang pun begitu. Terserah apapun kata orang lain selama keidealisan aku menjadi hal yang baik dan beranalisis kalau ini idealis yang baik. Jadi ya aku pegang teguh.

Aku ga tahu. Dimana letak bangganya kalau perempuan jadi pilihan. Pilihan terakhir bahkan.

Kalau misalnya

"Akhirnya aku milih kamu Bel, (aku mungkin udah mengerutkan kening, it's totally not as a compliment). Dari sekian banyaknya perempuan cantik, pintar, cerdas, bahkan ada yang jago masak."

Aku mungkin hanya bisa balik badan dan say goodbye. Satu satunya alasan mungkin yang paling sedih buat aku (sebagai perempuan) adalah dijadikan pilihan bukan tujuan.

Padahal dalam Al Quran dijelaskan tentang takdir. Takdir yang tertulis di lauful mahfudz bahkan sebelum aku sama laki laki itu lahir. Jadi jelas banget bahwa rezeki ini adalah bukan pilihan tapi tentang "dipilihkan" Allah. Allah semata yang punya hak prerogatif tentang takdir tersebut. Bukan dari pihak aku maupun laki laki tersebut.

Pernah ngalamin ga sih Bel? Pernah. Bahkan aku sampe nangis sepanjang jalan dari kantor ke rumah karena mengalami hal itu. Tapi ya ga apa apa. Pelajaran. :) Ada orang lain yang baik namun ga cukup kuat buat jadi pasangan hidup-akhiratnya aku.
Justru lebih baik kita kehilangan orang yang menjadikan kita pilihan dan alternatifnya.

Karena kehilangan yang paling buruk dan menyakitkan adalah kehilangan diri kita sendiri. Jangan sampai. Jangan pernah. Jangan terjadi juga.

Semoga tetap berjalan ke tujuan yang sama. Tujuan untuk menuju kemenangan meskipun sekarang telihat kalah. Hayya alal falah.

Keep going "for us"!


21.05